Jika aku harus berenang di laut untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,
aku akan belajar bagaimana berenang, dan aku akan mengarungi lautan itu.
Jika aku harus mendaki gunung tertinggi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan belajar cara memanjat, dan aku akan memanjat gunung itu.
Jika aku harus menyelam samudra terdalam untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, maka aku akan belajar bagaimana cara menyelam, dan aku akan menyelami samudra itu.
Jika aku kecewa karena hal-hal yang tidak tampak seperti yang aku inginkan,
maka aku akan belajar bagaimana menerimanya, dan aku akan mencoba untuk menerimanya.
Setidaknya sekarang aku telah mengalami bagaimana berenang, mendaki dan menyelam dan juga bagaimana untuk menerima segala sesuatu yang berasal dari usahaku..
Kemudian, aku akan mencoba kembali untuk melakukan lebih baik. Demi apa yang aku inginkan…
Aku akan datang.. dan mencapai semua itu.. Semoga saja keinginan ini adalah baik… dan untuk kebaikan
sgala yg kita lakukan baik atau buruk itu pasti akan bernilai baik untuk diri sendiri ataupun orang lain...
Sumber : Chicken soup for the soul
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 Desember 2010
Minggu, 21 November 2010
The Power of FAILURE for SUCCESS
Banyak orang menjadi lemah ketika mengalami kegagalan. Menjadi tidak bersemangat, enggan untuk melangkah lagi dan serangkai kemunduran sikap lainnya. Padahal kegagalan merupakan titik balik bagi seseorang untuk memperbaiki langkahnya menuju kesuksesan.
Belajar dari Napoleon Hill yang menungkapkan bahwa, "Sebagian besar orang telah mencapai keberhasilan terbesar mereka, yang hanya berjarak satu langkah dari tempat mereka mengalami kegagalan."
Ambil inspirasi bangkit dari kegagalan melalui
Sudhamek AWS : CEO Garuda Food
Simak wawancara yang memberikan kita inspirasi bagaimana jalan panjang yang dilalauinya membawa bisnisnya menjadi raksasa seperti saat ini.
Bambang Tri Sasongko : Menuai Berkah Setelah Pasrah Tertimpa Musibah
Tak pernah disangka dalam hidupnya akan kehilangan semua harta benda akibat kebakaran. Bambang kemudian belajar ikhlas dan menerima segala yang terjadi pada dirinya dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga akhirnya kini telah sukses merajai berbagai bidang usaha, mulai dari energi, pertambangan hingga kini akan memasuki bisnis airlines.
Damayanti Buchori : Tak Mau Kalah Karena Total Commitment
Seorang dosen di IPB ini dijuluki sebagai Pejuang Konservasi Alam karena usahanya yang gigih dalam menekuni bidangnya yaitu tentang serangga ekologi. Dalam hidupnya ia selalu berpedoman "don't quit", jangan pernah menyerah atas setiap kegagalan yang kita alami.
Belajar Kegagalan dari 7 Tokoh Dunia
1. Martha Stewart : Model yang sukses juga di bisnis ini bangkit dengan mengembalikan nama baiknya setelah sempat di penjara akibat kasus insider trading, padahal kala itu namanya sedang di puncak-puncaknya. Hingga akhirnya, ia mampu merebut kembali kejayaannya di Omnimedia dan menjadi magnet pebisnis AS, host televisi ternama, penulis, dan publisher.
2. Rowland Hussey Macy: Bangkit dengan mengubah cara lama.
3. Stephen King: Penulis fiksi spesialis horor ini justru menggapai puncak ketika sebelumnya ia merasa putus asa karena semua karyanya ditolak.
4. Liu Wei: Ia harus kehilangan kedua tangannya dan bahkan menghentikan langkahnya untuk bermain piano. Atas motivasi dari ibunya, ia kemudian bermain piano menggunakan kedua kakinya hingga kemudian mengantarkannya menjadi pemenang ajang talent show China's Got Talent.
5. Babe Ruth : Pemain bisbol sepanjang masa yang menganggap kegagalan bukan sesuatu yang fatal.
6. Dick Cheney : Meski sempat gagal menyelesaikan kuliahnya di Yale University namun ia bertekad mencoba jalan lain hingga menjadikannya Wakil Presiden Amerika Serikat sekalgus pada akhirnya mampu menyelesaikan gelar sarjana dan masternya sekaligus.
7. Ben dan Jerry: Meski sempat kalah dalam bisnisnya akibat monopoli, Ben dan Jerry pendiri es krim Ben & Jerry's ini bangkit melalui simpati masyarakat. Kini, siapa yang tak kenal dan tak suka es krim istimewa ini?
Innerfire of Jason Becker oleh Audifax
Musisi dan Gitaris yang sangat diidolakan ini harus mengalami kelumpuhan ALS pada umur 19 tahun. Dengan hanya mengandalkan jari tangan kirinya, Jason mampu menghasilkan karya emas dan album sukses. Jason mampu menciptakan musik luar biasa dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Sumber : Andrie Wongso
Belajar dari Napoleon Hill yang menungkapkan bahwa, "Sebagian besar orang telah mencapai keberhasilan terbesar mereka, yang hanya berjarak satu langkah dari tempat mereka mengalami kegagalan."
Ambil inspirasi bangkit dari kegagalan melalui
Sudhamek AWS : CEO Garuda Food
Simak wawancara yang memberikan kita inspirasi bagaimana jalan panjang yang dilalauinya membawa bisnisnya menjadi raksasa seperti saat ini.
Bambang Tri Sasongko : Menuai Berkah Setelah Pasrah Tertimpa Musibah
Tak pernah disangka dalam hidupnya akan kehilangan semua harta benda akibat kebakaran. Bambang kemudian belajar ikhlas dan menerima segala yang terjadi pada dirinya dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga akhirnya kini telah sukses merajai berbagai bidang usaha, mulai dari energi, pertambangan hingga kini akan memasuki bisnis airlines.
Damayanti Buchori : Tak Mau Kalah Karena Total Commitment
Seorang dosen di IPB ini dijuluki sebagai Pejuang Konservasi Alam karena usahanya yang gigih dalam menekuni bidangnya yaitu tentang serangga ekologi. Dalam hidupnya ia selalu berpedoman "don't quit", jangan pernah menyerah atas setiap kegagalan yang kita alami.
Belajar Kegagalan dari 7 Tokoh Dunia
1. Martha Stewart : Model yang sukses juga di bisnis ini bangkit dengan mengembalikan nama baiknya setelah sempat di penjara akibat kasus insider trading, padahal kala itu namanya sedang di puncak-puncaknya. Hingga akhirnya, ia mampu merebut kembali kejayaannya di Omnimedia dan menjadi magnet pebisnis AS, host televisi ternama, penulis, dan publisher.
2. Rowland Hussey Macy: Bangkit dengan mengubah cara lama.
3. Stephen King: Penulis fiksi spesialis horor ini justru menggapai puncak ketika sebelumnya ia merasa putus asa karena semua karyanya ditolak.
4. Liu Wei: Ia harus kehilangan kedua tangannya dan bahkan menghentikan langkahnya untuk bermain piano. Atas motivasi dari ibunya, ia kemudian bermain piano menggunakan kedua kakinya hingga kemudian mengantarkannya menjadi pemenang ajang talent show China's Got Talent.
5. Babe Ruth : Pemain bisbol sepanjang masa yang menganggap kegagalan bukan sesuatu yang fatal.
6. Dick Cheney : Meski sempat gagal menyelesaikan kuliahnya di Yale University namun ia bertekad mencoba jalan lain hingga menjadikannya Wakil Presiden Amerika Serikat sekalgus pada akhirnya mampu menyelesaikan gelar sarjana dan masternya sekaligus.
7. Ben dan Jerry: Meski sempat kalah dalam bisnisnya akibat monopoli, Ben dan Jerry pendiri es krim Ben & Jerry's ini bangkit melalui simpati masyarakat. Kini, siapa yang tak kenal dan tak suka es krim istimewa ini?
Innerfire of Jason Becker oleh Audifax
Musisi dan Gitaris yang sangat diidolakan ini harus mengalami kelumpuhan ALS pada umur 19 tahun. Dengan hanya mengandalkan jari tangan kirinya, Jason mampu menghasilkan karya emas dan album sukses. Jason mampu menciptakan musik luar biasa dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Sumber : Andrie Wongso
Alphabet menuju sukses
A : Accept (Menerima)
Terimalah diri Anda sebagaimana adanya.
B : Believe (Percaya)
Percayalah terhadap kemampuan Anda untuk meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.
C : Care (Peduli)
Pedulilah pada kemampuan Anda meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.
D : Direct (Langsung)
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.
E : Earn (Menerima/Mendapatkan)
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.
F : Face (Hadapi)
Hadapi masalah dengan benar dan yakin.
G : Go (Pergi)
Berangkatlah dari kebenaran.
H : Homework (PR)
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.
I : Ignore (Abaikan)
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan Anda mencapai tujuan.
J : Jealously (Kecemburuan)
Rasa iri dapat membuat Anda tidak menghargai kelebihan Anda sendiri, jadi hindarilah.
K : Keep (Menjaga)
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.
L : Learn (Belajar)
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
M : Mind (Pikiran)
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.
N : Never (Jangan Pernah)
Jangan pernah putus asa.
O : Observe (Amati)
Amatilah segala hal di sekeliling Anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.
P : Patience (Kesabaran)
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat Anda terus berusaha.
Q : Question (Pertanyaan)
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.
R : Respect (Hargai/Hormati)
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.
S : Self Confidence, Self Esteem / Self Respect (Percaya Diri, Penghargaan Diri)
Kepercayaan diri dan penghargaan atas diri sendiri membebaskan kita dari saat-saat tegang.
T : Take (Ambil)
Bertanggung jawab pada setiap tindakan Anda.
U : Understand (Memahami/Mengerti)
Pahami bahwa hidup itu selalu ada potensi untuk naik.
V : Value (Nilai)
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.
W : Work (Kerja)
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.
X : X'tra (Ekstra)
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.
Y : You (Kamu)
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.
Z : Zero (Nol)
Selalu ingat, usaha nol membawa hasil nol pula.
Sumber : Andrie Wongso
Terimalah diri Anda sebagaimana adanya.
B : Believe (Percaya)
Percayalah terhadap kemampuan Anda untuk meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.
C : Care (Peduli)
Pedulilah pada kemampuan Anda meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.
D : Direct (Langsung)
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.
E : Earn (Menerima/Mendapatkan)
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.
F : Face (Hadapi)
Hadapi masalah dengan benar dan yakin.
G : Go (Pergi)
Berangkatlah dari kebenaran.
H : Homework (PR)
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.
I : Ignore (Abaikan)
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan Anda mencapai tujuan.
J : Jealously (Kecemburuan)
Rasa iri dapat membuat Anda tidak menghargai kelebihan Anda sendiri, jadi hindarilah.
K : Keep (Menjaga)
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.
L : Learn (Belajar)
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
M : Mind (Pikiran)
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.
N : Never (Jangan Pernah)
Jangan pernah putus asa.
O : Observe (Amati)
Amatilah segala hal di sekeliling Anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.
P : Patience (Kesabaran)
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat Anda terus berusaha.
Q : Question (Pertanyaan)
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.
R : Respect (Hargai/Hormati)
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.
S : Self Confidence, Self Esteem / Self Respect (Percaya Diri, Penghargaan Diri)
Kepercayaan diri dan penghargaan atas diri sendiri membebaskan kita dari saat-saat tegang.
T : Take (Ambil)
Bertanggung jawab pada setiap tindakan Anda.
U : Understand (Memahami/Mengerti)
Pahami bahwa hidup itu selalu ada potensi untuk naik.
V : Value (Nilai)
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.
W : Work (Kerja)
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.
X : X'tra (Ekstra)
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.
Y : You (Kamu)
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.
Z : Zero (Nol)
Selalu ingat, usaha nol membawa hasil nol pula.
Sumber : Andrie Wongso
Sepatu Agus
Agus melangkah dengan lesu setelah menerima salinan rapornya yang baru saja ia terima dari bu Eti, guru wali kelasnya. Semua nilai mata pelajarannya menurun. Kepalanya tertunduk dalam ketika duduk kembali di mejanya. Konsentrasinya sudah benar-benar hilang. Bu Eti yang melanjutkan memanggil teman-temannya satu persatu untuk maju kedepan, sudah tidak terekam lagi di kepalanya. Pandangannya terpekur pada kedua ujung jempol kakinya yang tampak dari jendela sepatunya. Kedua ujung sepatunya ada lubang sehingga seperti jendela yang menganga. Kedua ujung jempol kakinya seperti kepala yang mengintip malu-malu. Ia malu dan benci sepatunya yang sudah aus dan tua itu. Ia menyesali kenapa ia hanya menjadi anak seorang penjual cilok. Untuk membeli sepatu saja tidak mampu. Ia merasa sedih dan benci kepada entah siapa. Setiap kali melihat teman-temannya yang selalu memakai sepatu bagus dan sering ganti-ganti. Ia ingin membuang jauh-jauh sepatu bututnya itu tapi kalau ia benar-benar membuang sepatunya itu, ia tidak punya sepatu lagi. Itu sepatu satu-satunya yang ia miliki. Ia kembali memandangi nilai-nilai yang berjajar rapi di salinan rapornya. Membuatnya semakin sebel dan dongkol.

aat istirahat ia menyendiri, tidak ikut bermain dengan teman-temannya. Sudah beberapa hari ini ia sudah tidak bisa lagi menahan malu untuk bergabung dengan teman-temannya. Bahkan sering kali menghindari untuk berpapasan dengan teman-temannya. Ini semua gara-gara sepatunya yang sudah berjendela. Lagi-lagi ia ingin sekali membuang jauh-jauh sepatunya itu. Ia merasa, gara-gara sepatunya itu, teman-temanya menjauhi dirinya. Gara-gara sepatunya semua nilai pelajarannya menurun.
Bel pelajaran, tanda akhir pelajaran sudah menggema, semua murid menghambur keluar kelas masing-masing. Agus berjalan pulang sendiri. “Agus! Agus!” Suara Amir memanggil-manggilnya dari belakang tapi diabaikannya begitu saja. “Agus…tunggu!”, Amir berlari mengejar Agus.
Amir sudah berjalan beriringan dengan Agus. “Kita buat kelompok belajar yuk!”, kata Amir sambil terengah-engah. “Bulan depan kita akan menghadapi lomba cerdas cermatnya”, Amir menerangkan dengan semangat. Tapi Agus menanggapinya dengan lesu dan dongkol, “Aku tidak akan ikut lomba”, kata Agus dongkol lalu segera berlalu dari hadapan Amir. Ia berjalan sendiri menyusuri jalan sembari sesekali melirik kedua jempol kakinya yang muncul di depannya bergantian. Jempol-jempol itu seakan sudah tidak malu-malu lagi melongok dari jendela-jendelanya. Menelan kenyataan bahwa ia tidak ikut lomba cerdas cermat seperti menelan pil pahit yang berukuran sangat besar.
Sampai di rumah ia masuk kamar tanpa menyapa ibunya. Tanpa makan siang, ia terus mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya melayang, seandainya ia jadi Faiz, pasti ia tidak akan mengalami seperti ini. Kedua orang tua Faiz adalah dokter semua. Seandainya ia jadi Doni, orangtuanya yang insinyur atau seandainya ia jadi Amir yang orang tuanya punya bengkel mobil yang besar. Ia akan bisa berganti-ganti sepatu setiap dua hari sekali dan ia akan punya sepatu olahraga sendiri.
“Nak, kamu sakit ya?”, tanya ibu lembut sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Agus. Tapi dengan kesal Agus mengalihkan kepalanya dari tangan ibunya. “Ada apa?”, tanya ibu lembut. “makan dulu”, lanjut ibu.
“Tidak mau!”, jawab Agus kesal. Dengan sabar ibu mengelus kepala Agus. Ibu mengikuti pandangan Agus yang sedang tiduran tengkurap sambil menatap sepatunya. Ibu sudah tahu permasalahan yang dihadapi Agus. Beberapa hari lalu Agus sudah mengatakan pada ayah, bahwa sepatunya perlu diganti. Tapi ayahnya tidak punya cukup uang untuk membeli sepatu baru. Sekali lagi ibunya dengan lembut membelai kepala Agus.
Keesokan malamnya, saat Agus mengurung diri di kamarnya seperti biasa, Ayah memanggilnya. Ayah dan ibu sudah duduk di ruang depan, sekaligus ruang tamu.
”Ayah tadi bertemu bu Eti”, kata ayah. “Kamu tidak mau ikut lomba cerdas cermat ya?”, lanjut ayah.
“Agus malu yah dengan teman-teman”, jawab Agus tertunduk.
“Kenapa harus malu?”, tanya ayah lembut tapi berwibawa.
“Sepatu Agus sudah bolong-bolong”
“Nak, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Coba lihat Adi. Ia tidak punya sepatu sama sekali. Ia sekolah tanpa memakai sepatu”, ayah menerangkan dengan lembut. Agus semakin tertunduk. Ia ingat bagaimana Adi selalu bertelanjang kaki ke sekolah. Kasihan dia, orangtuanya adalah pemulung.
“Janganlah sepatumu itu menghentikan kamu untuk belajar”, kata ayah semakin lembut. “Jangan sampai hanya karena sepatu, kamu menghentikan masa depanmu”, lanjut ayah lagi. Ruangan menjadi hening untuk sejenak, ”maafkan ayah, belum bisa membelikan sepatu untukmu”.
Tidak sepatah katapun yang diucapkan Agus. Ia justru merasa bersalah ketika ayahnya meminta maaf kepadanya. Seharusnya ia yang meminta maaf pada ayah dan ibunya karena selama ini tidak mau memahami situasi yang sebenarnya. Bahkan juga telah menyalahkan ayah dan ibunya. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“Nak, apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan.”
Kata-kata ayah begitu cepat meresap ke dalam pikiran dan hati Agus. Sekarang ia menjadi tenang dan bahagia. Ia tidak lagi mempunyai rasa benci dan marah. Ia bersyukur masih punya sepatu. Ia bahagia dan bangga punya ayah dan ibunya. Ruangan itu sesaat menjadi hening lagi. Kepala Agus makin dalam tertunduk. Tak sadar air matanya menetes.
“Belajarlah terus nak”, kata ayah memecah keheningan. “Ayah dan ibu akan menabung untuk membeli sepatu baru saat kamu lomba nanti”.
“Iya yah”, kata Agus bersemangat. “Agus akan terus belajar dan ikut lomba. Agus tidak malu lagi dengan sepatuku. Aku malah bangga punya sepatu yang menyehatkan karena ada sirkulasi udaranya”. Semua tertawa mendengar seloroh Agus.
***
Sekarang Agus sudah tidak malu lagi dengan teman-temannya. Agus sudah menjadi seperti semula. Agus yang selalu riang, aktif, suka menolong teman-temannya dan cerdas. Ia sudah bisa bermain dengan teman-temannya lagi seperti tempo hari. Ia sudah nyaman dengan sepatu ventilasinya. Ternyata teman-temannya tidak berubah. Mereka tetap baik dengannya walaupun sepatunya tidak baru dan berlobang. Bersama-sama mereka belajar berkelompok untuk menghadapi lomba cerdas cermat. Even lomba ini memperebutkan trofi dari Gubernur. Mereka bertekad untuk memenangkan lomba itu.
Hari lombapun telah tiba. Ayah benar-benar memberi kejutan sepatu baru warna hitam. Agus bahagia sekali. “Terima kasih ayah, ibu”. Ia menciumi dan memeluk erat-erat kedua orangtuanya. Dengan semangat yang berkobar-kobar, Agus, Amir dan Hana berangkat lomba dengan dilepas semua guru-guru dan teman-teman satu sekolah. Lomba ini disiarkan langsung oleh stasiun TV. Dengan cepat dan tangkas Agus dan teman-teman menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hanya pada babak rebutan, satu pertanyaan yang tercecer tidak terjawab oleh mereka.
Akhirnya kerja keras Agus dan teman-temannya selama ini tidak sia-sia. Agus dan teman-teman berhasil memenangkan lomba. Mereka berhasil meraih nilai yang sangat tinggi. Dengan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan, mereka menerima trofi langsung dari Gubernur. Mereka juga mendapat uang beasiswa, tas dan sepatu yang bagus-bagus yang tidak akan pernah terbeli oleh kedua orangtuanya. Setelah seremoni penyerahan trofi dan hadiah selesai, mereka diwawancarai banyak wartawan. Merekapun menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tenang dan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Semua orang menyalami dan memberi selamat atas kemenangan mereka. Ternyata orang tua Amir dan Hana pun datang. Mereka memeluk dan menciumi Amir dan Hana dengan suka cita. Sejenak kebahagiaan Agus terhenti. Ia ingin sekali mendapat perhatian yang sama dari orangtuanya. Tapi dengan sigap ia ingat teringat kata-kata ayahnya. “Apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan”. Ia tidak ingin menghentikan kebahagiaannya. Ia tidak ingin menghentikan perayaan kemenangannya. Dalam hati ia berharap ayah dan ibunya libur jualan dan menyaksikan dirinya lewat TV. Terima kasih ayah, ibu.
Sumber : Chicken soup for the soul

aat istirahat ia menyendiri, tidak ikut bermain dengan teman-temannya. Sudah beberapa hari ini ia sudah tidak bisa lagi menahan malu untuk bergabung dengan teman-temannya. Bahkan sering kali menghindari untuk berpapasan dengan teman-temannya. Ini semua gara-gara sepatunya yang sudah berjendela. Lagi-lagi ia ingin sekali membuang jauh-jauh sepatunya itu. Ia merasa, gara-gara sepatunya itu, teman-temanya menjauhi dirinya. Gara-gara sepatunya semua nilai pelajarannya menurun.
Bel pelajaran, tanda akhir pelajaran sudah menggema, semua murid menghambur keluar kelas masing-masing. Agus berjalan pulang sendiri. “Agus! Agus!” Suara Amir memanggil-manggilnya dari belakang tapi diabaikannya begitu saja. “Agus…tunggu!”, Amir berlari mengejar Agus.
Amir sudah berjalan beriringan dengan Agus. “Kita buat kelompok belajar yuk!”, kata Amir sambil terengah-engah. “Bulan depan kita akan menghadapi lomba cerdas cermatnya”, Amir menerangkan dengan semangat. Tapi Agus menanggapinya dengan lesu dan dongkol, “Aku tidak akan ikut lomba”, kata Agus dongkol lalu segera berlalu dari hadapan Amir. Ia berjalan sendiri menyusuri jalan sembari sesekali melirik kedua jempol kakinya yang muncul di depannya bergantian. Jempol-jempol itu seakan sudah tidak malu-malu lagi melongok dari jendela-jendelanya. Menelan kenyataan bahwa ia tidak ikut lomba cerdas cermat seperti menelan pil pahit yang berukuran sangat besar.
Sampai di rumah ia masuk kamar tanpa menyapa ibunya. Tanpa makan siang, ia terus mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya melayang, seandainya ia jadi Faiz, pasti ia tidak akan mengalami seperti ini. Kedua orang tua Faiz adalah dokter semua. Seandainya ia jadi Doni, orangtuanya yang insinyur atau seandainya ia jadi Amir yang orang tuanya punya bengkel mobil yang besar. Ia akan bisa berganti-ganti sepatu setiap dua hari sekali dan ia akan punya sepatu olahraga sendiri.
“Nak, kamu sakit ya?”, tanya ibu lembut sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Agus. Tapi dengan kesal Agus mengalihkan kepalanya dari tangan ibunya. “Ada apa?”, tanya ibu lembut. “makan dulu”, lanjut ibu.
“Tidak mau!”, jawab Agus kesal. Dengan sabar ibu mengelus kepala Agus. Ibu mengikuti pandangan Agus yang sedang tiduran tengkurap sambil menatap sepatunya. Ibu sudah tahu permasalahan yang dihadapi Agus. Beberapa hari lalu Agus sudah mengatakan pada ayah, bahwa sepatunya perlu diganti. Tapi ayahnya tidak punya cukup uang untuk membeli sepatu baru. Sekali lagi ibunya dengan lembut membelai kepala Agus.
Keesokan malamnya, saat Agus mengurung diri di kamarnya seperti biasa, Ayah memanggilnya. Ayah dan ibu sudah duduk di ruang depan, sekaligus ruang tamu.
”Ayah tadi bertemu bu Eti”, kata ayah. “Kamu tidak mau ikut lomba cerdas cermat ya?”, lanjut ayah.
“Agus malu yah dengan teman-teman”, jawab Agus tertunduk.
“Kenapa harus malu?”, tanya ayah lembut tapi berwibawa.
“Sepatu Agus sudah bolong-bolong”
“Nak, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Coba lihat Adi. Ia tidak punya sepatu sama sekali. Ia sekolah tanpa memakai sepatu”, ayah menerangkan dengan lembut. Agus semakin tertunduk. Ia ingat bagaimana Adi selalu bertelanjang kaki ke sekolah. Kasihan dia, orangtuanya adalah pemulung.
“Janganlah sepatumu itu menghentikan kamu untuk belajar”, kata ayah semakin lembut. “Jangan sampai hanya karena sepatu, kamu menghentikan masa depanmu”, lanjut ayah lagi. Ruangan menjadi hening untuk sejenak, ”maafkan ayah, belum bisa membelikan sepatu untukmu”.
Tidak sepatah katapun yang diucapkan Agus. Ia justru merasa bersalah ketika ayahnya meminta maaf kepadanya. Seharusnya ia yang meminta maaf pada ayah dan ibunya karena selama ini tidak mau memahami situasi yang sebenarnya. Bahkan juga telah menyalahkan ayah dan ibunya. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“Nak, apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan.”
Kata-kata ayah begitu cepat meresap ke dalam pikiran dan hati Agus. Sekarang ia menjadi tenang dan bahagia. Ia tidak lagi mempunyai rasa benci dan marah. Ia bersyukur masih punya sepatu. Ia bahagia dan bangga punya ayah dan ibunya. Ruangan itu sesaat menjadi hening lagi. Kepala Agus makin dalam tertunduk. Tak sadar air matanya menetes.
“Belajarlah terus nak”, kata ayah memecah keheningan. “Ayah dan ibu akan menabung untuk membeli sepatu baru saat kamu lomba nanti”.
“Iya yah”, kata Agus bersemangat. “Agus akan terus belajar dan ikut lomba. Agus tidak malu lagi dengan sepatuku. Aku malah bangga punya sepatu yang menyehatkan karena ada sirkulasi udaranya”. Semua tertawa mendengar seloroh Agus.
***
Sekarang Agus sudah tidak malu lagi dengan teman-temannya. Agus sudah menjadi seperti semula. Agus yang selalu riang, aktif, suka menolong teman-temannya dan cerdas. Ia sudah bisa bermain dengan teman-temannya lagi seperti tempo hari. Ia sudah nyaman dengan sepatu ventilasinya. Ternyata teman-temannya tidak berubah. Mereka tetap baik dengannya walaupun sepatunya tidak baru dan berlobang. Bersama-sama mereka belajar berkelompok untuk menghadapi lomba cerdas cermat. Even lomba ini memperebutkan trofi dari Gubernur. Mereka bertekad untuk memenangkan lomba itu.
Hari lombapun telah tiba. Ayah benar-benar memberi kejutan sepatu baru warna hitam. Agus bahagia sekali. “Terima kasih ayah, ibu”. Ia menciumi dan memeluk erat-erat kedua orangtuanya. Dengan semangat yang berkobar-kobar, Agus, Amir dan Hana berangkat lomba dengan dilepas semua guru-guru dan teman-teman satu sekolah. Lomba ini disiarkan langsung oleh stasiun TV. Dengan cepat dan tangkas Agus dan teman-teman menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hanya pada babak rebutan, satu pertanyaan yang tercecer tidak terjawab oleh mereka.
Akhirnya kerja keras Agus dan teman-temannya selama ini tidak sia-sia. Agus dan teman-teman berhasil memenangkan lomba. Mereka berhasil meraih nilai yang sangat tinggi. Dengan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan, mereka menerima trofi langsung dari Gubernur. Mereka juga mendapat uang beasiswa, tas dan sepatu yang bagus-bagus yang tidak akan pernah terbeli oleh kedua orangtuanya. Setelah seremoni penyerahan trofi dan hadiah selesai, mereka diwawancarai banyak wartawan. Merekapun menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tenang dan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Semua orang menyalami dan memberi selamat atas kemenangan mereka. Ternyata orang tua Amir dan Hana pun datang. Mereka memeluk dan menciumi Amir dan Hana dengan suka cita. Sejenak kebahagiaan Agus terhenti. Ia ingin sekali mendapat perhatian yang sama dari orangtuanya. Tapi dengan sigap ia ingat teringat kata-kata ayahnya. “Apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan”. Ia tidak ingin menghentikan kebahagiaannya. Ia tidak ingin menghentikan perayaan kemenangannya. Dalam hati ia berharap ayah dan ibunya libur jualan dan menyaksikan dirinya lewat TV. Terima kasih ayah, ibu.
Sumber : Chicken soup for the soul
Sabtu, 13 November 2010
Serangan seekor kupu-kupu
Ketika berjalan kaki menyusuri sebuah jalur kecil di samping pepohonan diGeorgia, saya melihat sebuah genangan air di depan saya. Saya mengambil keputusan untuk mengitarinya pada bagian yang tidak becek. Sewaktu saya menghampiri genangan itu, tiba-tiba saya diserang!
Saya tidak menghindar karena serangan itu begitu tiba-tiba dan datang dari sumber yang sangat tak terduga.
Saya terkejut namun tidak terluka sekalipun sudah diserang empat atau lima kali. Saya mundur selangkah dan penyerang saya berhenti menyerang. Penyerang itu melayang di udara; dia adalah seekor kupu- kupu dengan sayapnya yang indah. Seandainya saya terluka saya tidak akan menganggap kejadian itu menakjubkan. Tentu saja saya tidak terluka, dan saya tertawa melihatnya.
Seekor kupu-kupu menyerang saya!
Setelah berhenti tertawa, saya melangkah maju lagi. Penyerang saya kembali menyerang saya. Ia menabrakkan dirinya pada dada saya, menyerang saya
berkali-kali dengan segenap kekuatannya, berusaha mendorong saya. Untuk kedua kalinya, saya mundur selangkah sementara kupu-kupu itu berhenti.
Lalu saya maju lagi, dan dia pun kembali menyerang. Saya diserang pada dada saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan kecuali mundur
lagi. Lagipula, tidak setiap hari saya bisa mengalah bertarung dengan seekor kupu-kupu.
Kali ini, saya mundur beberapa langkah ke arah lain untuk melihat mengapa kupu-kupu itu menyerang saya. Dia terbang merendah dan kemudian mendarat
di tanah kering di samping genangan air tadi. Saat itulah saya menyadari mengapa dia tadi menyerang saya. Kupu-kupu itu mendarat dekat seekor
kupu-kupu lain yang kemungkinan adalah pasangannya, dan pasangannya itu sedang sekarat. Berdiam di dekat pasangannya, kupu-kupu itu membuka dan
menutup sayapnya seolah-olah untuk mengipasinya. Saya hanya dapat mengagumi kasih dan keberanian kupu-kupu itu untuk menjaga pasangannya.
Kupu-kupu itu berani menyerang saya demi hidup pasangannya, sekalipun sudah jelas bahwa pasangannya sebentar lagi akan mati dan saya begitu besar
untuk dihadapi. Dia melakukan hal itu agar pasangan mendapatkan sedikit perpanjangan waktu untuk hidup, karena jika tidak saya sudah akan menginjaknya tadi.
Sekarang saya tahu untuk siapa dan mengapa ia bertaruh nyawa seperti itu.
Cuma ada satu pilihan bagi saya. Perlahan-lahan saya mengambil jalur yang lain, sekalipun jalur itu sangat becek dan berlumpur. Keberanian kupu-kupu
itu untuk menyerang sesuatu yang ribuan kali lebih besar dan lebih berat dari dirinya sendiri demi keamanan pasangannya telah menggugah hati saya.
Saya tidak dapat melakukan hal yang lain kecuali memilih jalan yang kotor dan membiarkan kupu-kupu itu menemani pasangannya yang tengah sekarat. Dia
layak untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir bersama pasangannya tanpa diganggu oleh saya. Setelah meninggalkan mereka, saya membersihkan sepatu
saya yang kotor dan segera menuju ke mobil.
Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mengingat keberanian kupu-kupu itu setiap kali saya melihat masalah menghadapi saya. Saya menggunakan
keberanian kupu-kupu itu sebagai inspirasi dan untuk mengingatkan saya bahwa hal-hal yang baik patut untuk diperjuangkan sekuat tenaga.
---
David L. Kuzminski
Saya tidak menghindar karena serangan itu begitu tiba-tiba dan datang dari sumber yang sangat tak terduga.
Saya terkejut namun tidak terluka sekalipun sudah diserang empat atau lima kali. Saya mundur selangkah dan penyerang saya berhenti menyerang. Penyerang itu melayang di udara; dia adalah seekor kupu- kupu dengan sayapnya yang indah. Seandainya saya terluka saya tidak akan menganggap kejadian itu menakjubkan. Tentu saja saya tidak terluka, dan saya tertawa melihatnya.
Seekor kupu-kupu menyerang saya!
Setelah berhenti tertawa, saya melangkah maju lagi. Penyerang saya kembali menyerang saya. Ia menabrakkan dirinya pada dada saya, menyerang saya
berkali-kali dengan segenap kekuatannya, berusaha mendorong saya. Untuk kedua kalinya, saya mundur selangkah sementara kupu-kupu itu berhenti.
Lalu saya maju lagi, dan dia pun kembali menyerang. Saya diserang pada dada saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan kecuali mundur
lagi. Lagipula, tidak setiap hari saya bisa mengalah bertarung dengan seekor kupu-kupu.
Kali ini, saya mundur beberapa langkah ke arah lain untuk melihat mengapa kupu-kupu itu menyerang saya. Dia terbang merendah dan kemudian mendarat
di tanah kering di samping genangan air tadi. Saat itulah saya menyadari mengapa dia tadi menyerang saya. Kupu-kupu itu mendarat dekat seekor
kupu-kupu lain yang kemungkinan adalah pasangannya, dan pasangannya itu sedang sekarat. Berdiam di dekat pasangannya, kupu-kupu itu membuka dan
menutup sayapnya seolah-olah untuk mengipasinya. Saya hanya dapat mengagumi kasih dan keberanian kupu-kupu itu untuk menjaga pasangannya.
Kupu-kupu itu berani menyerang saya demi hidup pasangannya, sekalipun sudah jelas bahwa pasangannya sebentar lagi akan mati dan saya begitu besar
untuk dihadapi. Dia melakukan hal itu agar pasangan mendapatkan sedikit perpanjangan waktu untuk hidup, karena jika tidak saya sudah akan menginjaknya tadi.
Sekarang saya tahu untuk siapa dan mengapa ia bertaruh nyawa seperti itu.
Cuma ada satu pilihan bagi saya. Perlahan-lahan saya mengambil jalur yang lain, sekalipun jalur itu sangat becek dan berlumpur. Keberanian kupu-kupu
itu untuk menyerang sesuatu yang ribuan kali lebih besar dan lebih berat dari dirinya sendiri demi keamanan pasangannya telah menggugah hati saya.
Saya tidak dapat melakukan hal yang lain kecuali memilih jalan yang kotor dan membiarkan kupu-kupu itu menemani pasangannya yang tengah sekarat. Dia
layak untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir bersama pasangannya tanpa diganggu oleh saya. Setelah meninggalkan mereka, saya membersihkan sepatu
saya yang kotor dan segera menuju ke mobil.
Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mengingat keberanian kupu-kupu itu setiap kali saya melihat masalah menghadapi saya. Saya menggunakan
keberanian kupu-kupu itu sebagai inspirasi dan untuk mengingatkan saya bahwa hal-hal yang baik patut untuk diperjuangkan sekuat tenaga.
---
David L. Kuzminski
Jumat, 26 Maret 2010
Honda

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda - Soichiro Honda - diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.
“Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.
Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.
Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.
Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company.
Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.
Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.
Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.
Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih?
Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.
Kuliah
Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.
“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia.
Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga miskin.
Langganan:
Komentar (Atom)
