A : Accept (Menerima)
Terimalah diri Anda sebagaimana adanya.
B : Believe (Percaya)
Percayalah terhadap kemampuan Anda untuk meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.
C : Care (Peduli)
Pedulilah pada kemampuan Anda meraih apa yang Anda inginkan dalam hidup.
D : Direct (Langsung)
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.
E : Earn (Menerima/Mendapatkan)
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.
F : Face (Hadapi)
Hadapi masalah dengan benar dan yakin.
G : Go (Pergi)
Berangkatlah dari kebenaran.
H : Homework (PR)
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.
I : Ignore (Abaikan)
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan Anda mencapai tujuan.
J : Jealously (Kecemburuan)
Rasa iri dapat membuat Anda tidak menghargai kelebihan Anda sendiri, jadi hindarilah.
K : Keep (Menjaga)
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.
L : Learn (Belajar)
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
M : Mind (Pikiran)
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.
N : Never (Jangan Pernah)
Jangan pernah putus asa.
O : Observe (Amati)
Amatilah segala hal di sekeliling Anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.
P : Patience (Kesabaran)
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat Anda terus berusaha.
Q : Question (Pertanyaan)
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.
R : Respect (Hargai/Hormati)
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.
S : Self Confidence, Self Esteem / Self Respect (Percaya Diri, Penghargaan Diri)
Kepercayaan diri dan penghargaan atas diri sendiri membebaskan kita dari saat-saat tegang.
T : Take (Ambil)
Bertanggung jawab pada setiap tindakan Anda.
U : Understand (Memahami/Mengerti)
Pahami bahwa hidup itu selalu ada potensi untuk naik.
V : Value (Nilai)
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.
W : Work (Kerja)
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.
X : X'tra (Ekstra)
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.
Y : You (Kamu)
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.
Z : Zero (Nol)
Selalu ingat, usaha nol membawa hasil nol pula.
Sumber : Andrie Wongso
Minggu, 21 November 2010
Jadilah bijaksana hari ini
Dahulu kala, ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik dan gagah. Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu dan menawarkan harga yang sangat tinggi. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya. Teman-temannya menyayangkan dan mengejek dia karena tidak menjual kudanya itu.
Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya! Maka teman-temannya berkata, "Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin kamu jual, kamu sudah jadi orang kaya. Sekarang kudamu sudah hilang." Si petani miskin hanya diam saja.
Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-temannya berkata, "Wah beruntung sekali nasibmu! Ternyata kudamu membawa keberuntungan ya.." Si petani hanya diam saja.
Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka terjatuh dan kakinya patah. Teman-temannya berkata, "Ah, rupanya kuda-kuda itu membawa sial. Lihat, sekarang kaki anakmu patah!"
Si petani tetap diam tanpa komentar.
Seminggu kemudian, terjadi peperangan di wilayah itu. Semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karena dia belum bisa berjalan. Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis, "Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang. Kami harus kehilangan anak-anak kami."
Si petani kemudian berkomentar, "Janganlah terlaku cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek. Semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik hari ini, belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini, belum tentu buruk untuk hari esok. Jadilah bijaksana hari ini!
Sumber : Andrie Wongso
Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya! Maka teman-temannya berkata, "Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin kamu jual, kamu sudah jadi orang kaya. Sekarang kudamu sudah hilang." Si petani miskin hanya diam saja.
Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama 5 ekor kuda lainnya. Lalu teman-temannya berkata, "Wah beruntung sekali nasibmu! Ternyata kudamu membawa keberuntungan ya.." Si petani hanya diam saja.
Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka terjatuh dan kakinya patah. Teman-temannya berkata, "Ah, rupanya kuda-kuda itu membawa sial. Lihat, sekarang kaki anakmu patah!"
Si petani tetap diam tanpa komentar.
Seminggu kemudian, terjadi peperangan di wilayah itu. Semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karena dia belum bisa berjalan. Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis, "Beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang. Kami harus kehilangan anak-anak kami."
Si petani kemudian berkomentar, "Janganlah terlaku cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek. Semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik hari ini, belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini, belum tentu buruk untuk hari esok. Jadilah bijaksana hari ini!
Sumber : Andrie Wongso
10 Chinese wisdom (kearifan dari negeri China)
Teman2, berikut adalah 10 Chinese wisdom (kearifan dari negeri China):
1. Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.
2. Sebuah batu permata tidak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnya seorang manusia disempurnakan dengan cobaan hidup.
3. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.
4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama lima menit lebih baik daripada yang tidak bertanya, karena ia tetap bodoh selamanya.
5. Jika Anda ingin tak seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya.
6. Berikan seseorang seekor ikan, dan Anda memberinya makan untuk sehari. Ajarkan seseorang untuk menangkap ikan, dan Anda memberinya makan untuk seumur hidup.
7. Waktu terbaik untuk menanam sebuah pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, adalah: mulailah hari ini.
8. Bila Anda ingin tahu masa lalu Anda: lihatlah kondisi Anda saat ini. Bila Anda ingin tahu masa depan Anda: lihatlah tindakan-tindakan Anda saat ini.
9. Sebuah pembicaraan dengan seorang bijak adalah lebih baik daripada sepuluh tahun menuntut ilmu.
10. Hidup sebagian adalah apa yang kita tentukan, dan sebagian lagi ditentukan oleh teman-teman yang kita pilih.
Sumber : Andrie Wongso
1. Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.
2. Sebuah batu permata tidak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnya seorang manusia disempurnakan dengan cobaan hidup.
3. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.
4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama lima menit lebih baik daripada yang tidak bertanya, karena ia tetap bodoh selamanya.
5. Jika Anda ingin tak seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya.
6. Berikan seseorang seekor ikan, dan Anda memberinya makan untuk sehari. Ajarkan seseorang untuk menangkap ikan, dan Anda memberinya makan untuk seumur hidup.
7. Waktu terbaik untuk menanam sebuah pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua, adalah: mulailah hari ini.
8. Bila Anda ingin tahu masa lalu Anda: lihatlah kondisi Anda saat ini. Bila Anda ingin tahu masa depan Anda: lihatlah tindakan-tindakan Anda saat ini.
9. Sebuah pembicaraan dengan seorang bijak adalah lebih baik daripada sepuluh tahun menuntut ilmu.
10. Hidup sebagian adalah apa yang kita tentukan, dan sebagian lagi ditentukan oleh teman-teman yang kita pilih.
Sumber : Andrie Wongso
Jangan menjadi batu sandungan
Dikisahkan, ada seorang anak muda yang mempunyai temperamen tinggi. Seringkali karena hal-hal sepele, dia mudah tersinggung dan marah, bahkan bila perlu berkelahi dengan orang lain yang dianggap telah menghinanya. Orangtuanya berkali-kali menasihati agar belajar bersabar dan mau mengerti orang lain, tetapi si anak tidak menggubris dan menganggapnya sebagai angin lalu.
Suatu hari saat berkendara di jalan raya, sepeda motor yang dikendarai bersama temannya dilanggar oleh orang lain. Sifat pemarahnya pun muncul. Dengan perasaan jengkel, segera saja motor itu dikejar dan dipepet dengan tingkah sok jagoan. Merasa dirinya menang, saat menyaksikan orang tadi meminggirkan motornya, dia pun tancap gas sambil tertawa terbahak-bahak.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan nyaring disertai bunyi benda terjatuh keras. Rupanya karena tidak konsentrasi pada jalanan, terjadilah kecelakaan yang melukai dirinya sendiri serta teman yang dibonceng. Akibat kecelakaan itu, teman yang dibonceng terpental dan mengalami luka yang cukup parah. Dia sendiri hanya mengalami luka ringan, sedangkan motornya rusak tidak karuan.
Saat menengok teman yang dirawat di rumah sakit, dia berjumpa dengan orangtua temannya. Dengan tersipu malu dia berkata, “Maafkan saya Pak, Bu. Saya yang mengendarai dan merusakkan motornya, serta mencelakai Anto. Semua salah saya. Saya akan berusaha meminta orangtua saya untuk membantu biaya perbaikan motor dan biaya perawatan di rumah sakit ini.”
Ayah si teman menjawab dengan sabar, “Anak muda. Bapak tidak mempermasalahkan biaya rumah sakit dan perbaikan motor. Walaupun harus mengeluarkan uang, itu semua bisa diselesaikan. Yang penting, kita harus bersyukur karena kalian selamat dan hanya mengalami luka-luka yang tidak membahayakan nyawa.
Bapak hanya ingin mengingatkan kepada kalian, bahwa hidup ini adalah berkat! Berkat yang tidak boleh disia-siakan oleh siapapun. Maka paling sedikit, berusahalah bermanfaat bagi dirimu sendiri. Jika kalian merasa belum bisa menjadi berkat bagi orang lain, ya setidaknya cobalah jangan menjadi batu sandungan untuk orang lain. Dengan berkendaraan ugal-ugalan, bukan hanya tidak menghargai berkat yang diberikan Yang Maha Kuasa, kalian juga telah menjadi batu sandungan bagi kehidupan orang lain. Itu sungguh hidup yang sia-sia. Bapak tidak ingin kalian menjadi orang seperti itu. Harap kalian mengerti.”
Teman-teman yang Luar Biasa!
Himpitan beban kehidupan, sering kali membuat manusia sekarang ini mudah tersinggung dan sibuk mengumbar emosi. Semakin arogan terasa semakin hebat. Apalagi jika bisa menindas orang lain, akan merasa dirinya jagoan.
Hal ini sungguh "penyakit mental" yang tidak perlu dipelihara alias harus segera dibuang! Perlu diingat, bila belum mampu menjadi berkat bagi orang lain, setidaknya jangan menjadi batu sandungan bagi sesama. Setuju...?
Salam sukses, luar biasa!
Sumber : Andrie Wongso
Suatu hari saat berkendara di jalan raya, sepeda motor yang dikendarai bersama temannya dilanggar oleh orang lain. Sifat pemarahnya pun muncul. Dengan perasaan jengkel, segera saja motor itu dikejar dan dipepet dengan tingkah sok jagoan. Merasa dirinya menang, saat menyaksikan orang tadi meminggirkan motornya, dia pun tancap gas sambil tertawa terbahak-bahak.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan nyaring disertai bunyi benda terjatuh keras. Rupanya karena tidak konsentrasi pada jalanan, terjadilah kecelakaan yang melukai dirinya sendiri serta teman yang dibonceng. Akibat kecelakaan itu, teman yang dibonceng terpental dan mengalami luka yang cukup parah. Dia sendiri hanya mengalami luka ringan, sedangkan motornya rusak tidak karuan.
Saat menengok teman yang dirawat di rumah sakit, dia berjumpa dengan orangtua temannya. Dengan tersipu malu dia berkata, “Maafkan saya Pak, Bu. Saya yang mengendarai dan merusakkan motornya, serta mencelakai Anto. Semua salah saya. Saya akan berusaha meminta orangtua saya untuk membantu biaya perbaikan motor dan biaya perawatan di rumah sakit ini.”
Ayah si teman menjawab dengan sabar, “Anak muda. Bapak tidak mempermasalahkan biaya rumah sakit dan perbaikan motor. Walaupun harus mengeluarkan uang, itu semua bisa diselesaikan. Yang penting, kita harus bersyukur karena kalian selamat dan hanya mengalami luka-luka yang tidak membahayakan nyawa.
Bapak hanya ingin mengingatkan kepada kalian, bahwa hidup ini adalah berkat! Berkat yang tidak boleh disia-siakan oleh siapapun. Maka paling sedikit, berusahalah bermanfaat bagi dirimu sendiri. Jika kalian merasa belum bisa menjadi berkat bagi orang lain, ya setidaknya cobalah jangan menjadi batu sandungan untuk orang lain. Dengan berkendaraan ugal-ugalan, bukan hanya tidak menghargai berkat yang diberikan Yang Maha Kuasa, kalian juga telah menjadi batu sandungan bagi kehidupan orang lain. Itu sungguh hidup yang sia-sia. Bapak tidak ingin kalian menjadi orang seperti itu. Harap kalian mengerti.”
Teman-teman yang Luar Biasa!
Himpitan beban kehidupan, sering kali membuat manusia sekarang ini mudah tersinggung dan sibuk mengumbar emosi. Semakin arogan terasa semakin hebat. Apalagi jika bisa menindas orang lain, akan merasa dirinya jagoan.
Hal ini sungguh "penyakit mental" yang tidak perlu dipelihara alias harus segera dibuang! Perlu diingat, bila belum mampu menjadi berkat bagi orang lain, setidaknya jangan menjadi batu sandungan bagi sesama. Setuju...?
Salam sukses, luar biasa!
Sumber : Andrie Wongso
Tahta untuk sang Putri
Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President & CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?
Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.
Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri jdinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.
Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.
Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.
Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.
Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian dbanding kedua kakaknya.
Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.
Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.
Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President & CEO? Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu. Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender. Bagaimana jalan keluarnya? Konsultan angkat tangan. Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah.
Lalu dipanggilnya ketiga anaknya. Dibentangkannya persoalan secara gamblang. Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga. Dialog pun dimulai. Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi. “Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku,” kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut. Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian. “Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku,” katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. “Budget maksimum Rp1 juta,” tambahnya lagi.
Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya. Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat. “Bagus, besok giliranmu,” kata si ayah kepada anak keduanya.
Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging. “Oke, besok giliranmu,” kata sang patriarch menunjuk putrinya.
Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong. “Lho, kok kosong?” tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja. Lalu disulutnya dengan sebatang korek api. “Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari,” katanya kalem. Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved.
Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at any given situation.
Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.
Dari dulu botak memang ciri orang pintar. Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri. Dalam arti ini, orang bijak selalu berkonotasi orang alim dan saleh.
Kini, ketika rasionalisme warisan Descartes dan Immanuel Kant menjadi panglima, kebijaksanaan yang berasal dari hati (nurani atau suara hati) cenderung dinomorduakan. Yang utama adalah kepala. Dunia politik, bisnis dan kemasyarakatan kita kemudian didominasi oleh para pakar dan teknokrat bergelar master, doktor, dan profesor.
Sumber : Chicken soup for the soul
Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.
Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri jdinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.
Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.
Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.
Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.
Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian dbanding kedua kakaknya.
Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.
Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.
Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President & CEO? Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu. Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender. Bagaimana jalan keluarnya? Konsultan angkat tangan. Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah.
Lalu dipanggilnya ketiga anaknya. Dibentangkannya persoalan secara gamblang. Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga. Dialog pun dimulai. Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi. “Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku,” kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut. Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian. “Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku,” katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. “Budget maksimum Rp1 juta,” tambahnya lagi.
Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya. Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat. “Bagus, besok giliranmu,” kata si ayah kepada anak keduanya.
Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging. “Oke, besok giliranmu,” kata sang patriarch menunjuk putrinya.
Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong. “Lho, kok kosong?” tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja. Lalu disulutnya dengan sebatang korek api. “Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari,” katanya kalem. Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved.
Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at any given situation.
Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.
Dari dulu botak memang ciri orang pintar. Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri. Dalam arti ini, orang bijak selalu berkonotasi orang alim dan saleh.
Kini, ketika rasionalisme warisan Descartes dan Immanuel Kant menjadi panglima, kebijaksanaan yang berasal dari hati (nurani atau suara hati) cenderung dinomorduakan. Yang utama adalah kepala. Dunia politik, bisnis dan kemasyarakatan kita kemudian didominasi oleh para pakar dan teknokrat bergelar master, doktor, dan profesor.
Sumber : Chicken soup for the soul
Sepatu Agus
Agus melangkah dengan lesu setelah menerima salinan rapornya yang baru saja ia terima dari bu Eti, guru wali kelasnya. Semua nilai mata pelajarannya menurun. Kepalanya tertunduk dalam ketika duduk kembali di mejanya. Konsentrasinya sudah benar-benar hilang. Bu Eti yang melanjutkan memanggil teman-temannya satu persatu untuk maju kedepan, sudah tidak terekam lagi di kepalanya. Pandangannya terpekur pada kedua ujung jempol kakinya yang tampak dari jendela sepatunya. Kedua ujung sepatunya ada lubang sehingga seperti jendela yang menganga. Kedua ujung jempol kakinya seperti kepala yang mengintip malu-malu. Ia malu dan benci sepatunya yang sudah aus dan tua itu. Ia menyesali kenapa ia hanya menjadi anak seorang penjual cilok. Untuk membeli sepatu saja tidak mampu. Ia merasa sedih dan benci kepada entah siapa. Setiap kali melihat teman-temannya yang selalu memakai sepatu bagus dan sering ganti-ganti. Ia ingin membuang jauh-jauh sepatu bututnya itu tapi kalau ia benar-benar membuang sepatunya itu, ia tidak punya sepatu lagi. Itu sepatu satu-satunya yang ia miliki. Ia kembali memandangi nilai-nilai yang berjajar rapi di salinan rapornya. Membuatnya semakin sebel dan dongkol.

aat istirahat ia menyendiri, tidak ikut bermain dengan teman-temannya. Sudah beberapa hari ini ia sudah tidak bisa lagi menahan malu untuk bergabung dengan teman-temannya. Bahkan sering kali menghindari untuk berpapasan dengan teman-temannya. Ini semua gara-gara sepatunya yang sudah berjendela. Lagi-lagi ia ingin sekali membuang jauh-jauh sepatunya itu. Ia merasa, gara-gara sepatunya itu, teman-temanya menjauhi dirinya. Gara-gara sepatunya semua nilai pelajarannya menurun.
Bel pelajaran, tanda akhir pelajaran sudah menggema, semua murid menghambur keluar kelas masing-masing. Agus berjalan pulang sendiri. “Agus! Agus!” Suara Amir memanggil-manggilnya dari belakang tapi diabaikannya begitu saja. “Agus…tunggu!”, Amir berlari mengejar Agus.
Amir sudah berjalan beriringan dengan Agus. “Kita buat kelompok belajar yuk!”, kata Amir sambil terengah-engah. “Bulan depan kita akan menghadapi lomba cerdas cermatnya”, Amir menerangkan dengan semangat. Tapi Agus menanggapinya dengan lesu dan dongkol, “Aku tidak akan ikut lomba”, kata Agus dongkol lalu segera berlalu dari hadapan Amir. Ia berjalan sendiri menyusuri jalan sembari sesekali melirik kedua jempol kakinya yang muncul di depannya bergantian. Jempol-jempol itu seakan sudah tidak malu-malu lagi melongok dari jendela-jendelanya. Menelan kenyataan bahwa ia tidak ikut lomba cerdas cermat seperti menelan pil pahit yang berukuran sangat besar.
Sampai di rumah ia masuk kamar tanpa menyapa ibunya. Tanpa makan siang, ia terus mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya melayang, seandainya ia jadi Faiz, pasti ia tidak akan mengalami seperti ini. Kedua orang tua Faiz adalah dokter semua. Seandainya ia jadi Doni, orangtuanya yang insinyur atau seandainya ia jadi Amir yang orang tuanya punya bengkel mobil yang besar. Ia akan bisa berganti-ganti sepatu setiap dua hari sekali dan ia akan punya sepatu olahraga sendiri.
“Nak, kamu sakit ya?”, tanya ibu lembut sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Agus. Tapi dengan kesal Agus mengalihkan kepalanya dari tangan ibunya. “Ada apa?”, tanya ibu lembut. “makan dulu”, lanjut ibu.
“Tidak mau!”, jawab Agus kesal. Dengan sabar ibu mengelus kepala Agus. Ibu mengikuti pandangan Agus yang sedang tiduran tengkurap sambil menatap sepatunya. Ibu sudah tahu permasalahan yang dihadapi Agus. Beberapa hari lalu Agus sudah mengatakan pada ayah, bahwa sepatunya perlu diganti. Tapi ayahnya tidak punya cukup uang untuk membeli sepatu baru. Sekali lagi ibunya dengan lembut membelai kepala Agus.
Keesokan malamnya, saat Agus mengurung diri di kamarnya seperti biasa, Ayah memanggilnya. Ayah dan ibu sudah duduk di ruang depan, sekaligus ruang tamu.
”Ayah tadi bertemu bu Eti”, kata ayah. “Kamu tidak mau ikut lomba cerdas cermat ya?”, lanjut ayah.
“Agus malu yah dengan teman-teman”, jawab Agus tertunduk.
“Kenapa harus malu?”, tanya ayah lembut tapi berwibawa.
“Sepatu Agus sudah bolong-bolong”
“Nak, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Coba lihat Adi. Ia tidak punya sepatu sama sekali. Ia sekolah tanpa memakai sepatu”, ayah menerangkan dengan lembut. Agus semakin tertunduk. Ia ingat bagaimana Adi selalu bertelanjang kaki ke sekolah. Kasihan dia, orangtuanya adalah pemulung.
“Janganlah sepatumu itu menghentikan kamu untuk belajar”, kata ayah semakin lembut. “Jangan sampai hanya karena sepatu, kamu menghentikan masa depanmu”, lanjut ayah lagi. Ruangan menjadi hening untuk sejenak, ”maafkan ayah, belum bisa membelikan sepatu untukmu”.
Tidak sepatah katapun yang diucapkan Agus. Ia justru merasa bersalah ketika ayahnya meminta maaf kepadanya. Seharusnya ia yang meminta maaf pada ayah dan ibunya karena selama ini tidak mau memahami situasi yang sebenarnya. Bahkan juga telah menyalahkan ayah dan ibunya. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“Nak, apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan.”
Kata-kata ayah begitu cepat meresap ke dalam pikiran dan hati Agus. Sekarang ia menjadi tenang dan bahagia. Ia tidak lagi mempunyai rasa benci dan marah. Ia bersyukur masih punya sepatu. Ia bahagia dan bangga punya ayah dan ibunya. Ruangan itu sesaat menjadi hening lagi. Kepala Agus makin dalam tertunduk. Tak sadar air matanya menetes.
“Belajarlah terus nak”, kata ayah memecah keheningan. “Ayah dan ibu akan menabung untuk membeli sepatu baru saat kamu lomba nanti”.
“Iya yah”, kata Agus bersemangat. “Agus akan terus belajar dan ikut lomba. Agus tidak malu lagi dengan sepatuku. Aku malah bangga punya sepatu yang menyehatkan karena ada sirkulasi udaranya”. Semua tertawa mendengar seloroh Agus.
***
Sekarang Agus sudah tidak malu lagi dengan teman-temannya. Agus sudah menjadi seperti semula. Agus yang selalu riang, aktif, suka menolong teman-temannya dan cerdas. Ia sudah bisa bermain dengan teman-temannya lagi seperti tempo hari. Ia sudah nyaman dengan sepatu ventilasinya. Ternyata teman-temannya tidak berubah. Mereka tetap baik dengannya walaupun sepatunya tidak baru dan berlobang. Bersama-sama mereka belajar berkelompok untuk menghadapi lomba cerdas cermat. Even lomba ini memperebutkan trofi dari Gubernur. Mereka bertekad untuk memenangkan lomba itu.
Hari lombapun telah tiba. Ayah benar-benar memberi kejutan sepatu baru warna hitam. Agus bahagia sekali. “Terima kasih ayah, ibu”. Ia menciumi dan memeluk erat-erat kedua orangtuanya. Dengan semangat yang berkobar-kobar, Agus, Amir dan Hana berangkat lomba dengan dilepas semua guru-guru dan teman-teman satu sekolah. Lomba ini disiarkan langsung oleh stasiun TV. Dengan cepat dan tangkas Agus dan teman-teman menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hanya pada babak rebutan, satu pertanyaan yang tercecer tidak terjawab oleh mereka.
Akhirnya kerja keras Agus dan teman-temannya selama ini tidak sia-sia. Agus dan teman-teman berhasil memenangkan lomba. Mereka berhasil meraih nilai yang sangat tinggi. Dengan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan, mereka menerima trofi langsung dari Gubernur. Mereka juga mendapat uang beasiswa, tas dan sepatu yang bagus-bagus yang tidak akan pernah terbeli oleh kedua orangtuanya. Setelah seremoni penyerahan trofi dan hadiah selesai, mereka diwawancarai banyak wartawan. Merekapun menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tenang dan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Semua orang menyalami dan memberi selamat atas kemenangan mereka. Ternyata orang tua Amir dan Hana pun datang. Mereka memeluk dan menciumi Amir dan Hana dengan suka cita. Sejenak kebahagiaan Agus terhenti. Ia ingin sekali mendapat perhatian yang sama dari orangtuanya. Tapi dengan sigap ia ingat teringat kata-kata ayahnya. “Apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan”. Ia tidak ingin menghentikan kebahagiaannya. Ia tidak ingin menghentikan perayaan kemenangannya. Dalam hati ia berharap ayah dan ibunya libur jualan dan menyaksikan dirinya lewat TV. Terima kasih ayah, ibu.
Sumber : Chicken soup for the soul

aat istirahat ia menyendiri, tidak ikut bermain dengan teman-temannya. Sudah beberapa hari ini ia sudah tidak bisa lagi menahan malu untuk bergabung dengan teman-temannya. Bahkan sering kali menghindari untuk berpapasan dengan teman-temannya. Ini semua gara-gara sepatunya yang sudah berjendela. Lagi-lagi ia ingin sekali membuang jauh-jauh sepatunya itu. Ia merasa, gara-gara sepatunya itu, teman-temanya menjauhi dirinya. Gara-gara sepatunya semua nilai pelajarannya menurun.
Bel pelajaran, tanda akhir pelajaran sudah menggema, semua murid menghambur keluar kelas masing-masing. Agus berjalan pulang sendiri. “Agus! Agus!” Suara Amir memanggil-manggilnya dari belakang tapi diabaikannya begitu saja. “Agus…tunggu!”, Amir berlari mengejar Agus.
Amir sudah berjalan beriringan dengan Agus. “Kita buat kelompok belajar yuk!”, kata Amir sambil terengah-engah. “Bulan depan kita akan menghadapi lomba cerdas cermatnya”, Amir menerangkan dengan semangat. Tapi Agus menanggapinya dengan lesu dan dongkol, “Aku tidak akan ikut lomba”, kata Agus dongkol lalu segera berlalu dari hadapan Amir. Ia berjalan sendiri menyusuri jalan sembari sesekali melirik kedua jempol kakinya yang muncul di depannya bergantian. Jempol-jempol itu seakan sudah tidak malu-malu lagi melongok dari jendela-jendelanya. Menelan kenyataan bahwa ia tidak ikut lomba cerdas cermat seperti menelan pil pahit yang berukuran sangat besar.
Sampai di rumah ia masuk kamar tanpa menyapa ibunya. Tanpa makan siang, ia terus mengurung diri di dalam kamar. Pikirannya melayang, seandainya ia jadi Faiz, pasti ia tidak akan mengalami seperti ini. Kedua orang tua Faiz adalah dokter semua. Seandainya ia jadi Doni, orangtuanya yang insinyur atau seandainya ia jadi Amir yang orang tuanya punya bengkel mobil yang besar. Ia akan bisa berganti-ganti sepatu setiap dua hari sekali dan ia akan punya sepatu olahraga sendiri.
“Nak, kamu sakit ya?”, tanya ibu lembut sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Agus. Tapi dengan kesal Agus mengalihkan kepalanya dari tangan ibunya. “Ada apa?”, tanya ibu lembut. “makan dulu”, lanjut ibu.
“Tidak mau!”, jawab Agus kesal. Dengan sabar ibu mengelus kepala Agus. Ibu mengikuti pandangan Agus yang sedang tiduran tengkurap sambil menatap sepatunya. Ibu sudah tahu permasalahan yang dihadapi Agus. Beberapa hari lalu Agus sudah mengatakan pada ayah, bahwa sepatunya perlu diganti. Tapi ayahnya tidak punya cukup uang untuk membeli sepatu baru. Sekali lagi ibunya dengan lembut membelai kepala Agus.
Keesokan malamnya, saat Agus mengurung diri di kamarnya seperti biasa, Ayah memanggilnya. Ayah dan ibu sudah duduk di ruang depan, sekaligus ruang tamu.
”Ayah tadi bertemu bu Eti”, kata ayah. “Kamu tidak mau ikut lomba cerdas cermat ya?”, lanjut ayah.
“Agus malu yah dengan teman-teman”, jawab Agus tertunduk.
“Kenapa harus malu?”, tanya ayah lembut tapi berwibawa.
“Sepatu Agus sudah bolong-bolong”
“Nak, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Coba lihat Adi. Ia tidak punya sepatu sama sekali. Ia sekolah tanpa memakai sepatu”, ayah menerangkan dengan lembut. Agus semakin tertunduk. Ia ingat bagaimana Adi selalu bertelanjang kaki ke sekolah. Kasihan dia, orangtuanya adalah pemulung.
“Janganlah sepatumu itu menghentikan kamu untuk belajar”, kata ayah semakin lembut. “Jangan sampai hanya karena sepatu, kamu menghentikan masa depanmu”, lanjut ayah lagi. Ruangan menjadi hening untuk sejenak, ”maafkan ayah, belum bisa membelikan sepatu untukmu”.
Tidak sepatah katapun yang diucapkan Agus. Ia justru merasa bersalah ketika ayahnya meminta maaf kepadanya. Seharusnya ia yang meminta maaf pada ayah dan ibunya karena selama ini tidak mau memahami situasi yang sebenarnya. Bahkan juga telah menyalahkan ayah dan ibunya. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“Nak, apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan.”
Kata-kata ayah begitu cepat meresap ke dalam pikiran dan hati Agus. Sekarang ia menjadi tenang dan bahagia. Ia tidak lagi mempunyai rasa benci dan marah. Ia bersyukur masih punya sepatu. Ia bahagia dan bangga punya ayah dan ibunya. Ruangan itu sesaat menjadi hening lagi. Kepala Agus makin dalam tertunduk. Tak sadar air matanya menetes.
“Belajarlah terus nak”, kata ayah memecah keheningan. “Ayah dan ibu akan menabung untuk membeli sepatu baru saat kamu lomba nanti”.
“Iya yah”, kata Agus bersemangat. “Agus akan terus belajar dan ikut lomba. Agus tidak malu lagi dengan sepatuku. Aku malah bangga punya sepatu yang menyehatkan karena ada sirkulasi udaranya”. Semua tertawa mendengar seloroh Agus.
***
Sekarang Agus sudah tidak malu lagi dengan teman-temannya. Agus sudah menjadi seperti semula. Agus yang selalu riang, aktif, suka menolong teman-temannya dan cerdas. Ia sudah bisa bermain dengan teman-temannya lagi seperti tempo hari. Ia sudah nyaman dengan sepatu ventilasinya. Ternyata teman-temannya tidak berubah. Mereka tetap baik dengannya walaupun sepatunya tidak baru dan berlobang. Bersama-sama mereka belajar berkelompok untuk menghadapi lomba cerdas cermat. Even lomba ini memperebutkan trofi dari Gubernur. Mereka bertekad untuk memenangkan lomba itu.
Hari lombapun telah tiba. Ayah benar-benar memberi kejutan sepatu baru warna hitam. Agus bahagia sekali. “Terima kasih ayah, ibu”. Ia menciumi dan memeluk erat-erat kedua orangtuanya. Dengan semangat yang berkobar-kobar, Agus, Amir dan Hana berangkat lomba dengan dilepas semua guru-guru dan teman-teman satu sekolah. Lomba ini disiarkan langsung oleh stasiun TV. Dengan cepat dan tangkas Agus dan teman-teman menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hanya pada babak rebutan, satu pertanyaan yang tercecer tidak terjawab oleh mereka.
Akhirnya kerja keras Agus dan teman-temannya selama ini tidak sia-sia. Agus dan teman-teman berhasil memenangkan lomba. Mereka berhasil meraih nilai yang sangat tinggi. Dengan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan, mereka menerima trofi langsung dari Gubernur. Mereka juga mendapat uang beasiswa, tas dan sepatu yang bagus-bagus yang tidak akan pernah terbeli oleh kedua orangtuanya. Setelah seremoni penyerahan trofi dan hadiah selesai, mereka diwawancarai banyak wartawan. Merekapun menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tenang dan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Semua orang menyalami dan memberi selamat atas kemenangan mereka. Ternyata orang tua Amir dan Hana pun datang. Mereka memeluk dan menciumi Amir dan Hana dengan suka cita. Sejenak kebahagiaan Agus terhenti. Ia ingin sekali mendapat perhatian yang sama dari orangtuanya. Tapi dengan sigap ia ingat teringat kata-kata ayahnya. “Apa yang tidak bisa kamu kerjakan jangan sampai menghentikan apa yang bisa kamu kerjakan”. Ia tidak ingin menghentikan kebahagiaannya. Ia tidak ingin menghentikan perayaan kemenangannya. Dalam hati ia berharap ayah dan ibunya libur jualan dan menyaksikan dirinya lewat TV. Terima kasih ayah, ibu.
Sumber : Chicken soup for the soul
Semut dan Lalat
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah.
Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah, kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar"
katanya.
Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,
"Ada apa dengan lalat ini Pak? Mengapa dia sekarat?".
"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi
"Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?".
Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab,
"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannyadengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius
"Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".
"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda"
Sumber : Chicken soup for the soul
Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah, kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar"
katanya.
Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,
"Ada apa dengan lalat ini Pak? Mengapa dia sekarat?".
"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi
"Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?".
Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab,
"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannyadengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius
"Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".
"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda"
Sumber : Chicken soup for the soul
Langganan:
Postingan (Atom)