Disuatu waktu, adalah seorang pemotong kayu yang sangat kuat. Dia
melamar sebuah pekerjaan ke seorang pedagang kayu, dan dia
mendapatkannya. Gaji
dan kondisi kerja yang diterimanya sangat bagus. Karenanya sang
pemotong
kayu memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin. Sang majikan memberinya
sebuah
kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang pemotong kayu
berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan
berkata, "Selamat, kerjakanlah seperti itu "
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan harinya sang
pemotong kayu bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil
merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi,
tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang
pohon.
Hari2 berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku
mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir pemotong kayu itu. Dia
menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti
apa yang
terjadi. "Kapan saat terakhir anda mengasah kapak?" sang majikan
bertanya."Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya
sangat
sibuk mengapak pohon."
Catatan:
Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga
tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. "Pada istilah
sekarang, setiap orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi lebih
tidak berbahagia
dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya
untuk tetap tajam? Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras.
Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga
mengabaikan hal2
yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi,
menyediakan waktu untuk membaca, dlsb. Kita semua membutuhkan waktu
untuk relaks, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan
bertumbuh. Bila
kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan
kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara
bekerja lebih
efektif dan menambahkan banyak nilai kedalamnya
"Mereka yang berhasil adalah yang mampu membuat pondasi yang kokoh dari batu
bata yang dilemparkan orang lain kepadanya"
Sumber : sarikata.com
Minggu, 28 November 2010
Kebijaksanaan tukang roda
Sementara tukang roda sedang membuat roda di salah satu
ujung ruangan, Pangeran Huan dari Chi rnembaca buku di ujung
yang lain.
Setelah meletakkan alat alat kerjanya, tukang roda itu
mendatangi Pangeran itu dan bertanya buku apa yang sedang ia
baca.
"Buku yang menyimpan kata kata orang bijak," kata Pangeran.
"Apakah orang orang bijak itu masih hidup?" tanya tukang
roda.
"Tidak," kata Pangeran, "mereka semua sudah mati."
"Kalau begitu yang Pangeran baca tidak lebih dari sampah dan
sisa orang orang yang sudah mati," kata tukang roda itu.
"Berani benar kau tukang roda sampai berani menjelekkan buku
yang sedang saya baca Pertanggungjawabkanlah perkataanmu,
kalau tidak kamu harus mati."
"Baiklah," kata tukang roda itu, "Saya akan berbicara
sebagai tukang roda. Beginilah saya melihat persoalannya:
kalau saya sedang membentuk suatu roda, seandainya gerakan
saya terlalu lambat, gerakan itu akan mengores dalam tetapi
tidak tetap. Kalau gerakan saya terlalu cepat, gerakan itu
tetap tetapi tidak menggores dalam. Irama yang tepat,
artinya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, tidak
akan tercapai kalau tidak keluar dari dalam hati. Ini adalah
sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata kata. Ada
suatu seni di dalamnya, yang tidak dapat saya wariskan
kepada anak saya. Itulah sebabnya saya tidak dapat
membiarkannya mengambil alih rekerjaan saya. Maka saya yang
sekarang sudah berumur tujuh puluh lima tahun masih terus
membuat roda. Menurut pendapat saya halnya sama dengan
orang orang yang sudah mendahului kita. Semua yang pantas
diwariskan mati bersama dengan kematiannya; sisanya mereka
tuliskan dalam buku buku mereka. Itulah sebabnya saya
berkata bahwa yang sedang Pangeran baca adalah sampah dan
sisa orang orang yang sudah mati."
Sumber : sarikata.com
ujung ruangan, Pangeran Huan dari Chi rnembaca buku di ujung
yang lain.
Setelah meletakkan alat alat kerjanya, tukang roda itu
mendatangi Pangeran itu dan bertanya buku apa yang sedang ia
baca.
"Buku yang menyimpan kata kata orang bijak," kata Pangeran.
"Apakah orang orang bijak itu masih hidup?" tanya tukang
roda.
"Tidak," kata Pangeran, "mereka semua sudah mati."
"Kalau begitu yang Pangeran baca tidak lebih dari sampah dan
sisa orang orang yang sudah mati," kata tukang roda itu.
"Berani benar kau tukang roda sampai berani menjelekkan buku
yang sedang saya baca Pertanggungjawabkanlah perkataanmu,
kalau tidak kamu harus mati."
"Baiklah," kata tukang roda itu, "Saya akan berbicara
sebagai tukang roda. Beginilah saya melihat persoalannya:
kalau saya sedang membentuk suatu roda, seandainya gerakan
saya terlalu lambat, gerakan itu akan mengores dalam tetapi
tidak tetap. Kalau gerakan saya terlalu cepat, gerakan itu
tetap tetapi tidak menggores dalam. Irama yang tepat,
artinya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, tidak
akan tercapai kalau tidak keluar dari dalam hati. Ini adalah
sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata kata. Ada
suatu seni di dalamnya, yang tidak dapat saya wariskan
kepada anak saya. Itulah sebabnya saya tidak dapat
membiarkannya mengambil alih rekerjaan saya. Maka saya yang
sekarang sudah berumur tujuh puluh lima tahun masih terus
membuat roda. Menurut pendapat saya halnya sama dengan
orang orang yang sudah mendahului kita. Semua yang pantas
diwariskan mati bersama dengan kematiannya; sisanya mereka
tuliskan dalam buku buku mereka. Itulah sebabnya saya
berkata bahwa yang sedang Pangeran baca adalah sampah dan
sisa orang orang yang sudah mati."
Sumber : sarikata.com
Rahasia kecil kebahagiaan
Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain.
Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka.
Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.
Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku.
Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?
Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipiil.
Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya. Rasakan apa yang dikatakannya.
Sumber : Chicken soup for the soul
Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang. Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka.
Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.
Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.
Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.
Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku.
Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?
Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.
Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipiil.
Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya. Rasakan apa yang dikatakannya.
Sumber : Chicken soup for the soul
Bocah pembeli Es cream
Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.
“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.
“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.
“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.
Sumber : Chicken soup for the soul
“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.
“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.
“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.
Sumber : Chicken soup for the soul
Minggu, 21 November 2010
Jembatan maaf
Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja sama yang akrab itu kini retak.
Dimulai dari kesalah pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.
Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. “Maaf tuan,sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan,” kata pria itu dengan ramah. “Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan.” “Oh ya!” jawab sang kakak. “Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.” Kata tukang kayu, “Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang.”
Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang Adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
“Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku.” kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. “Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak. “Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini,” kata tukang kayu, “tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.”
Sumber : Chicken soup for the soul
Dimulai dari kesalah pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.
Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. “Maaf tuan,sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan,” kata pria itu dengan ramah. “Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan.” “Oh ya!” jawab sang kakak. “Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.” Kata tukang kayu, “Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang.”
Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang Adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
“Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku.” kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. “Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak. “Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini,” kata tukang kayu, “tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.”
Sumber : Chicken soup for the soul
Hati yang indah
Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.
Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya.
“Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia delapan tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!
Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.”
Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
“Aku rasa mungkin karena wajahku… Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…”
Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bisku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.”
Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat diveranda. Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan.
“Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat.
Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang ter-lampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.
Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat!
Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.
Saatnya tidur, kami bukakan ranjang-lipat-kain berkemah untuknya di kamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di beranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal di sini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi.”
Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak-anak Anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak-anak tampaknya tidak terganggu.” Aku katakan silakan datang kembali setiap saat.
Ketika ia datang lagi, Ia tiba pagi-pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor Ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar.
Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun-tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih.
Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman-kiriman dia menjadi makin bernilai…
Ketika aku menerima kiriman oleh-oleh itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. “Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!”
Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.
Sumber : email seorang teman
Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya.
“Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia delapan tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!
Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.”
Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
“Aku rasa mungkin karena wajahku… Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…”
Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bisku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.”
Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat diveranda. Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan.
“Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat.
Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang ter-lampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.
Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat!
Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.
Saatnya tidur, kami bukakan ranjang-lipat-kain berkemah untuknya di kamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di beranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal di sini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi.”
Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak-anak Anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak-anak tampaknya tidak terganggu.” Aku katakan silakan datang kembali setiap saat.
Ketika ia datang lagi, Ia tiba pagi-pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor Ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar.
Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun-tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih.
Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman-kiriman dia menjadi makin bernilai…
Ketika aku menerima kiriman oleh-oleh itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. “Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!”
Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.
Sumber : email seorang teman
The Power of FAILURE for SUCCESS
Banyak orang menjadi lemah ketika mengalami kegagalan. Menjadi tidak bersemangat, enggan untuk melangkah lagi dan serangkai kemunduran sikap lainnya. Padahal kegagalan merupakan titik balik bagi seseorang untuk memperbaiki langkahnya menuju kesuksesan.
Belajar dari Napoleon Hill yang menungkapkan bahwa, "Sebagian besar orang telah mencapai keberhasilan terbesar mereka, yang hanya berjarak satu langkah dari tempat mereka mengalami kegagalan."
Ambil inspirasi bangkit dari kegagalan melalui
Sudhamek AWS : CEO Garuda Food
Simak wawancara yang memberikan kita inspirasi bagaimana jalan panjang yang dilalauinya membawa bisnisnya menjadi raksasa seperti saat ini.
Bambang Tri Sasongko : Menuai Berkah Setelah Pasrah Tertimpa Musibah
Tak pernah disangka dalam hidupnya akan kehilangan semua harta benda akibat kebakaran. Bambang kemudian belajar ikhlas dan menerima segala yang terjadi pada dirinya dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga akhirnya kini telah sukses merajai berbagai bidang usaha, mulai dari energi, pertambangan hingga kini akan memasuki bisnis airlines.
Damayanti Buchori : Tak Mau Kalah Karena Total Commitment
Seorang dosen di IPB ini dijuluki sebagai Pejuang Konservasi Alam karena usahanya yang gigih dalam menekuni bidangnya yaitu tentang serangga ekologi. Dalam hidupnya ia selalu berpedoman "don't quit", jangan pernah menyerah atas setiap kegagalan yang kita alami.
Belajar Kegagalan dari 7 Tokoh Dunia
1. Martha Stewart : Model yang sukses juga di bisnis ini bangkit dengan mengembalikan nama baiknya setelah sempat di penjara akibat kasus insider trading, padahal kala itu namanya sedang di puncak-puncaknya. Hingga akhirnya, ia mampu merebut kembali kejayaannya di Omnimedia dan menjadi magnet pebisnis AS, host televisi ternama, penulis, dan publisher.
2. Rowland Hussey Macy: Bangkit dengan mengubah cara lama.
3. Stephen King: Penulis fiksi spesialis horor ini justru menggapai puncak ketika sebelumnya ia merasa putus asa karena semua karyanya ditolak.
4. Liu Wei: Ia harus kehilangan kedua tangannya dan bahkan menghentikan langkahnya untuk bermain piano. Atas motivasi dari ibunya, ia kemudian bermain piano menggunakan kedua kakinya hingga kemudian mengantarkannya menjadi pemenang ajang talent show China's Got Talent.
5. Babe Ruth : Pemain bisbol sepanjang masa yang menganggap kegagalan bukan sesuatu yang fatal.
6. Dick Cheney : Meski sempat gagal menyelesaikan kuliahnya di Yale University namun ia bertekad mencoba jalan lain hingga menjadikannya Wakil Presiden Amerika Serikat sekalgus pada akhirnya mampu menyelesaikan gelar sarjana dan masternya sekaligus.
7. Ben dan Jerry: Meski sempat kalah dalam bisnisnya akibat monopoli, Ben dan Jerry pendiri es krim Ben & Jerry's ini bangkit melalui simpati masyarakat. Kini, siapa yang tak kenal dan tak suka es krim istimewa ini?
Innerfire of Jason Becker oleh Audifax
Musisi dan Gitaris yang sangat diidolakan ini harus mengalami kelumpuhan ALS pada umur 19 tahun. Dengan hanya mengandalkan jari tangan kirinya, Jason mampu menghasilkan karya emas dan album sukses. Jason mampu menciptakan musik luar biasa dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Sumber : Andrie Wongso
Belajar dari Napoleon Hill yang menungkapkan bahwa, "Sebagian besar orang telah mencapai keberhasilan terbesar mereka, yang hanya berjarak satu langkah dari tempat mereka mengalami kegagalan."
Ambil inspirasi bangkit dari kegagalan melalui
Sudhamek AWS : CEO Garuda Food
Simak wawancara yang memberikan kita inspirasi bagaimana jalan panjang yang dilalauinya membawa bisnisnya menjadi raksasa seperti saat ini.
Bambang Tri Sasongko : Menuai Berkah Setelah Pasrah Tertimpa Musibah
Tak pernah disangka dalam hidupnya akan kehilangan semua harta benda akibat kebakaran. Bambang kemudian belajar ikhlas dan menerima segala yang terjadi pada dirinya dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga akhirnya kini telah sukses merajai berbagai bidang usaha, mulai dari energi, pertambangan hingga kini akan memasuki bisnis airlines.
Damayanti Buchori : Tak Mau Kalah Karena Total Commitment
Seorang dosen di IPB ini dijuluki sebagai Pejuang Konservasi Alam karena usahanya yang gigih dalam menekuni bidangnya yaitu tentang serangga ekologi. Dalam hidupnya ia selalu berpedoman "don't quit", jangan pernah menyerah atas setiap kegagalan yang kita alami.
Belajar Kegagalan dari 7 Tokoh Dunia
1. Martha Stewart : Model yang sukses juga di bisnis ini bangkit dengan mengembalikan nama baiknya setelah sempat di penjara akibat kasus insider trading, padahal kala itu namanya sedang di puncak-puncaknya. Hingga akhirnya, ia mampu merebut kembali kejayaannya di Omnimedia dan menjadi magnet pebisnis AS, host televisi ternama, penulis, dan publisher.
2. Rowland Hussey Macy: Bangkit dengan mengubah cara lama.
3. Stephen King: Penulis fiksi spesialis horor ini justru menggapai puncak ketika sebelumnya ia merasa putus asa karena semua karyanya ditolak.
4. Liu Wei: Ia harus kehilangan kedua tangannya dan bahkan menghentikan langkahnya untuk bermain piano. Atas motivasi dari ibunya, ia kemudian bermain piano menggunakan kedua kakinya hingga kemudian mengantarkannya menjadi pemenang ajang talent show China's Got Talent.
5. Babe Ruth : Pemain bisbol sepanjang masa yang menganggap kegagalan bukan sesuatu yang fatal.
6. Dick Cheney : Meski sempat gagal menyelesaikan kuliahnya di Yale University namun ia bertekad mencoba jalan lain hingga menjadikannya Wakil Presiden Amerika Serikat sekalgus pada akhirnya mampu menyelesaikan gelar sarjana dan masternya sekaligus.
7. Ben dan Jerry: Meski sempat kalah dalam bisnisnya akibat monopoli, Ben dan Jerry pendiri es krim Ben & Jerry's ini bangkit melalui simpati masyarakat. Kini, siapa yang tak kenal dan tak suka es krim istimewa ini?
Innerfire of Jason Becker oleh Audifax
Musisi dan Gitaris yang sangat diidolakan ini harus mengalami kelumpuhan ALS pada umur 19 tahun. Dengan hanya mengandalkan jari tangan kirinya, Jason mampu menghasilkan karya emas dan album sukses. Jason mampu menciptakan musik luar biasa dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Sumber : Andrie Wongso
Langganan:
Postingan (Atom)