Sin Liong menanti dengan tenang, berdiri tegak seperti patung memandang ke arah pintu rumah gedung itu. Apakah anak isterinya berada di dalam gedung itu? Masih dalam keadaan selamat?
Tiba-tiba muncul serombongan orang yang berpakaian biasa, orang-orang yang bertubuh tinggi besar dan bersikap angkuh. Mereka keluar dari dalam pintu dan menghampirinya dengan lagak memandang rendah dan tertawa-tawa. Seorang di antara mereka, yang bercambang bauk, segera menghadapinya dan memandang dari atas sampai ke bawah, seolah-olah tidak percaya bahwa yang disebut Pendekar Lembah Naga itu hanya seorang pria biasa saja, dengan pakaian sederhana dan tubuhnya yang sedang.
"Engkaukah yang bernama Cia Sin Liong?" tanyanya, nada suaranya seperti kebiasaan seorang pembesar tinggi bertanya kepada seorang rakyat kecil, seperti orang yang duduk di tempat tinggi bertanya kepada orang yang berjongkok jauh di bawahnya.
Sin Liong adalah seorang pendekar sakti yang sudah penuh gemblengan hidup, maka dia hanya tersenyum saja melihat tingkah ini, seperti seorang dewasa melihat tingkah seorang bocah nakal. Dia sendiri pernah tinggal di istana, pernah menjadi adik angkat seorang pangeran, maka dia banyak mengenal watak pembesar seperti ini. Akan tetapi diapun dapat menyangka bahwa orang ini hanyalah kaki tangan pembesar, semacam pengawal atau tukang pukul, dan biasanya memang para tukang pukul atau pembantu yang kasar-kasar ini jauh lebih congkak daripada si pembesar itu sendiri!
Memang demikianlah keadaan kita manusia dalam dunia ini. Kita selain ingin merasa lebih tinggi daripada orang lain, lebih pandai, lebih tampan, lebih kuat, lebih berkuasa dan segala macam lebih lagi. Dari manakah timbulnya ketinggian hati atau kecongkakan, keangkuhan dan kesombongan itu? Kita selalu menciptakan suatu gambaran tentang diri sendiri, gambaran yang diambil dari segi baik dan segi lebihnya saja, dan untuk mempertahankan gambaran inilah maka kita bersikap angkuh kepada orang lain yang kita anggap lebih rendah. Kalau kita menginginkan untuk memiliki gambaran diri yang sedemikian tingginya karena kita melihat kenyataan kita yang rendah, seperti para pembantu pembesar itu. Kenyataannya sehari-hari, mereka itu menjadi bawahan, dan kenyataan itu membuka mata bahwa mereka itu jauh lebih rendah daripada atasan mereka. Oleh karena itu timbul keinginan untuk memiliki gambaran diri yang tinggi, dan hal ini menimbulkan sikap yang congkak seolah-olah dia sudah menjadi seorang yang tinggi kedudukannya seperti yang digambar-gambarkannya itu. Setiap orang ingin menonjolkan diri agar dianggap paling tinggi paling pandai, dan segala macam "paling" lagi. Dan semua ini tentu saja menimbulkan konflik, baik konflik dalam batin sendiri antara kenyataan dan penggambaran, juga konflik keluar menghadapi orang lain.
Gambaran diri ini pasti timbul kalau tidak waspada, tidak sadar. Sebaliknya, kalau kita mau membuka mata dan waspada setiap saat akan diri sendiri, menghadapi kenyataannya tanpa memejamkan mata, melihat segala kekurangan dan kekotoran diri sendiri, maka akan nampaklah oleh kita bahwa yang ingin menonjolkan diri itu, yang menciptakan gambaran diri yang tinggi-tinggi itu, bukan lain adalah juga si aku, si pikiran yang menimbulkan segala kekotoran itulah! Penglihatan yang jelas ini akan menimbulkan pengertian dan ini adalah kesadaran sehingga kitapun terbebaslah dari cengkeraman si aku yang ingin menonjolkan diri itu dan lenyap pula segala kecongkakan dan kesombongan yang menguasai diri kita.
Sumber : kph
Kamis, 03 Februari 2011
Hakikat Kemarahan, Kebencian, Dendam, Iri Hati, Dan penyakit Hati Lainnya Dan Tip Jitu Untuk Menundukkannya!
Dan agaknya, berkat bimbingan selama tiga tahun dari Hong San Hwesio agaknya, Cheng Thian Sin pemuda tanggung ini telah dapat melenyapkan atau menekan dendam sakit hatinya atas kematian kedua orang tuanya. Demikianlah nampaknya secara lahiriah. Akan tetapi sesungguhnyakah dendam sudah lenyap dari dalam hati pemuda tampan ini?
Dapatkah dendam, sakit hati, perasaan marah, kebencian, iri hati, keserakahan, rasa takut, dan sebagainya dapat lenyap dari batin, dengan jalan melarikan diri dari semua itu atau dengan jalan menekannya? Hal ini penting sekali bagi kita untuk menyelidikinya dan mempelajarinya karena dalam kehidupan kita setiap hari tentu ada saja satu di antara nafsu-nafsu itu muncul di dalam hati kita. Mungkinkah kita terbebas dari semua nafsu itu dengan daya upaya kita?
Dari mana timbulnya nafsu-nafsu seperti dendam, kebencian, marah, iri, serakah, takut dan sebagainya itu? Semua itu timbul dari adanya pikiran yang membentuk si aku dengan keinginannya untuk mengejar kesenangan dan menjauhi kesusahan. Karena si aku ini merasa diganggu, dirugikan baik lahir maupun batin, maka timbullah kemarahan, kebencian dan sebagainya. Karena si aku ini ingin mengejar kesenangan, maka lahirlah keserakahan, iri hati dan sebagainya.
Setelah muncul kemarahan, dari pengalaman atau dari penuturan orang lain, si aku melihat bahwa kemarahan itu tidak akan menguntungkan. Maka timbullah keinginan lain lagi, yaitu keinginan untuk melenyapkan kemarahan! Jelas bahwa yang marah dan yang ingin bebas dari kemarahan itu masih yang itu-itu juga, masih si aku yang ingin senang karena ingin bebas dari kemarahan itupun pada hakekatnya hanya si aku ingin senang, menganggap bahwa bebas marah itu senang atau menyenangkan! Jadi, si marah adalah aku sendiri, dia yang ingin bebas marahpun aku sendiri. Bermacam daya upaya dilakukannya oleh kita untuk bebas dari kemarahan atau kebencian dan sebagainya. Ada yang melarikan diri dari kenyataan itu dengan cara menghibur diri, minum arak sampai mabuk, bersenang-senang sampai mabuk atau mengasingkan diri di tempat sunyi. Ada pula yang mempergunakan kekuatan kemauan untuk menghimpit dan menekan kemarahan yang timbul itu, pendeknya, segala macam daya upaya dilakukan orang untuk membebaskan diri daripada kenyataan, yaitu amarah itu.
Bagaimana hasilnya? Memang nampaknya berhasil, nampak dari luar memang berhasil. Yang marah itu tidak marah lagi oleh penekanan kemauan atau oleh hiburan. Akan tetapi, tak mungkin melenyapkan penyakit dengan hanya menggosok-gosok agar nyerinya berkurang atau lenyap. Karena penyakitnya masih ada, maka rasa nyeri itupun tentu akan timbul kembali! Demikian pula dengan kemarahan, kebencian dan sebagainya. Memang dengan penekanan atau hiburan, kemarahan itu seolah-olah pada lahirnya sudah lenyap, api kemarahan itu seolah-olah sudah padam. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian! Api itu masih membara, seperti api dalam sekam, di luarnya tidak nampak bernyala namun di sebelah dalamnya membara masih ada dan sewaktu-waktu akan berkobar lagi. Karena itulah, tercipta lingkaran setan pada diri kita. Marah, disabarkan atau ditekan lagi, marah lagi, ditekan lagi dan seterusnya selama kita hidup!
Mengapa kita tidak hadapi secara langsung segala yang timbul itu? Di waktu timbul marah, timbul benci, timbul iri, timbul takut dan sebagainya. Mengapa, kita lari? Mengapa kita tidak menanggulanginya secara langsung, mengamatinya, menyelidiki dan mempelajarinya secara langsung? Mengapa kita tidak membuka mata dan waspada, penuh kesadaran akan semua itu? Kalau marah timbul dan kita membuka mata penuh kewaspadaan, mengamatinya tanpa ada akal bulus si aku yang ingin merubah, ingin sabar dan sebagainya seperti itu, kalau yang ada hanya kewaspdaan saja, pengamatan saja, maka apakah akan terjadi dengan kemarahan yang timbul itu? Cobalah! Segala pengertian itu tanpa guna kalau tidak disertai penghayatan! Pengertian berarti penghayatan! Tanpa penghayatan maka pengertian itu hanya menjadi pengetahuan kosong belaka, hanya akan menjadi teori-teori usang yang pantasnya hanya disimpan di lemari lapuk untuk hiasan belaka, tidak ada manfaatnya bagi kehidupan. Nah, kalau ada timbul marah, benci, takut dan sebagainya, kita hadapi dan kita buka mata mengamatinya dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan dan kesadaran.
Kemarahan dan dendam timbul karena adanya sang pikiran, si aku yang tersinggung atau dirugikan. Kalau tidak ada si aku yang merasa dirugikan, apakah ada kemarahan itu? Hanya pengamatan dengan penuh kewaspadaan yang akan mendatangkan pengertian yang berarti penghayatan pula, melahirkan tanggapan-tanggapan spontan seketika. Dan pengertian dari pengamatan ini yang akan meniadakan marah atau dendam. Dan tidak adanya marah atau dendam mendekatkan kita kepada kebebasan dan cinta kasih. Dan kalau sudah begitu tidak perlu lagi belajar sabar!
Sumber: kph
Dapatkah dendam, sakit hati, perasaan marah, kebencian, iri hati, keserakahan, rasa takut, dan sebagainya dapat lenyap dari batin, dengan jalan melarikan diri dari semua itu atau dengan jalan menekannya? Hal ini penting sekali bagi kita untuk menyelidikinya dan mempelajarinya karena dalam kehidupan kita setiap hari tentu ada saja satu di antara nafsu-nafsu itu muncul di dalam hati kita. Mungkinkah kita terbebas dari semua nafsu itu dengan daya upaya kita?
Dari mana timbulnya nafsu-nafsu seperti dendam, kebencian, marah, iri, serakah, takut dan sebagainya itu? Semua itu timbul dari adanya pikiran yang membentuk si aku dengan keinginannya untuk mengejar kesenangan dan menjauhi kesusahan. Karena si aku ini merasa diganggu, dirugikan baik lahir maupun batin, maka timbullah kemarahan, kebencian dan sebagainya. Karena si aku ini ingin mengejar kesenangan, maka lahirlah keserakahan, iri hati dan sebagainya.
Setelah muncul kemarahan, dari pengalaman atau dari penuturan orang lain, si aku melihat bahwa kemarahan itu tidak akan menguntungkan. Maka timbullah keinginan lain lagi, yaitu keinginan untuk melenyapkan kemarahan! Jelas bahwa yang marah dan yang ingin bebas dari kemarahan itu masih yang itu-itu juga, masih si aku yang ingin senang karena ingin bebas dari kemarahan itupun pada hakekatnya hanya si aku ingin senang, menganggap bahwa bebas marah itu senang atau menyenangkan! Jadi, si marah adalah aku sendiri, dia yang ingin bebas marahpun aku sendiri. Bermacam daya upaya dilakukannya oleh kita untuk bebas dari kemarahan atau kebencian dan sebagainya. Ada yang melarikan diri dari kenyataan itu dengan cara menghibur diri, minum arak sampai mabuk, bersenang-senang sampai mabuk atau mengasingkan diri di tempat sunyi. Ada pula yang mempergunakan kekuatan kemauan untuk menghimpit dan menekan kemarahan yang timbul itu, pendeknya, segala macam daya upaya dilakukan orang untuk membebaskan diri daripada kenyataan, yaitu amarah itu.
Bagaimana hasilnya? Memang nampaknya berhasil, nampak dari luar memang berhasil. Yang marah itu tidak marah lagi oleh penekanan kemauan atau oleh hiburan. Akan tetapi, tak mungkin melenyapkan penyakit dengan hanya menggosok-gosok agar nyerinya berkurang atau lenyap. Karena penyakitnya masih ada, maka rasa nyeri itupun tentu akan timbul kembali! Demikian pula dengan kemarahan, kebencian dan sebagainya. Memang dengan penekanan atau hiburan, kemarahan itu seolah-olah pada lahirnya sudah lenyap, api kemarahan itu seolah-olah sudah padam. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian! Api itu masih membara, seperti api dalam sekam, di luarnya tidak nampak bernyala namun di sebelah dalamnya membara masih ada dan sewaktu-waktu akan berkobar lagi. Karena itulah, tercipta lingkaran setan pada diri kita. Marah, disabarkan atau ditekan lagi, marah lagi, ditekan lagi dan seterusnya selama kita hidup!
Mengapa kita tidak hadapi secara langsung segala yang timbul itu? Di waktu timbul marah, timbul benci, timbul iri, timbul takut dan sebagainya. Mengapa, kita lari? Mengapa kita tidak menanggulanginya secara langsung, mengamatinya, menyelidiki dan mempelajarinya secara langsung? Mengapa kita tidak membuka mata dan waspada, penuh kesadaran akan semua itu? Kalau marah timbul dan kita membuka mata penuh kewaspadaan, mengamatinya tanpa ada akal bulus si aku yang ingin merubah, ingin sabar dan sebagainya seperti itu, kalau yang ada hanya kewaspdaan saja, pengamatan saja, maka apakah akan terjadi dengan kemarahan yang timbul itu? Cobalah! Segala pengertian itu tanpa guna kalau tidak disertai penghayatan! Pengertian berarti penghayatan! Tanpa penghayatan maka pengertian itu hanya menjadi pengetahuan kosong belaka, hanya akan menjadi teori-teori usang yang pantasnya hanya disimpan di lemari lapuk untuk hiasan belaka, tidak ada manfaatnya bagi kehidupan. Nah, kalau ada timbul marah, benci, takut dan sebagainya, kita hadapi dan kita buka mata mengamatinya dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan dan kesadaran.
Kemarahan dan dendam timbul karena adanya sang pikiran, si aku yang tersinggung atau dirugikan. Kalau tidak ada si aku yang merasa dirugikan, apakah ada kemarahan itu? Hanya pengamatan dengan penuh kewaspadaan yang akan mendatangkan pengertian yang berarti penghayatan pula, melahirkan tanggapan-tanggapan spontan seketika. Dan pengertian dari pengamatan ini yang akan meniadakan marah atau dendam. Dan tidak adanya marah atau dendam mendekatkan kita kepada kebebasan dan cinta kasih. Dan kalau sudah begitu tidak perlu lagi belajar sabar!
Sumber: kph
Hanya Mereka Yang Menikah Atas Dasar SELALU "Mengejar Kesenangan" Sajalah Yang Akan Gagal Dalam Pernikahan!!
Thian Sin tidak mampu bicara lagi, hanya mengangguk-angguk dan dia merasa betapa hatinya perih dan nyeri. Setelah menerima peringatan dan nasihat-nasihat, dia lalu meninggalkan suami isteri itu dengan tubuh terasa lemah lunglai, diikuti pandang mata suami isteri itu yang merasa kasihan kepadanya. Thian Sin menjadi sedih dan bingung. Apalagi ketika pada keesokan harinya dia mendengar dari para muda di dusun tempat tinggal Cu Ing bahwa gadis itu telah diajak pergi meninggalkan dusun oleh keluarganya, dan kabarnya akan melangsungkan pernikahan dengan tunangannya di dusun sebelah selatan. Thian Sin merasa hatinya hancur. Patah hati!
Peristiwa ini merupakan pukulan batin kedua bagi pemuda ini. Pertama, ketika dia melihat ayah bundanya terbunuh, dan ketika dia menangis di depan peti-peti mati dan kuburan ayah bundanya. Rasa duka yang mengandung dendam ini menggores kalbunya, akan tetapi setelah dia mempelajari ilmu kepada Hong San Hwesio, perasaan duka dan dendam itu dapat ditekannya dengan pelajaran-pelajaran kebatinan yang diterimanya dari hwesio itu sehingga hampir tak pernah terasa lagi. Akan tetapi, sekarang, setelah dia menerima pukulan batin untuk ke dua kalinya yang cukup mendatangkan rasa nyeri dan memperbesar perasaan iba diri, maka luka lama itupun berdarah kembali! Dan diapun tak dapat menahan guncangan batin ini dan jatuh sakit!
Sin Liong dan Bi Cu mengerti akan keadaan anak angkat ini, akan tetapi merekapun tahu bahwa membiarkan anak itu beristirahat dengan tenang akan menyembuhkannya, karena sesungguhnya jasmaninya tidak menderita sakit sesuatu, hanya terpengaruh oleh tekanan batin dan kekecewaan belaka. Akan tetapi, Han Tiong merasa khawatir sekali dan pemuda ini boleh dibilang siang malam menjaga adik angkatnya, merawatnya dengan penuh perhatian dan sikap kakak angkat ini, sikap yang tidak dibuat-buat melainkan yang keluar dari kasih sayang murni, merupakan obat dan penghibur yang manjur bagi Thian Sin karena pemuda ini dapat melihat bahwa ada orang lain yang masih benar-benar amat menyayangnya, yaitu Han Tiong!
Betapa menyedihkan melihat bahwa yang kita sebut-sebut cinta itu hampir selalu, atau sebagian besar, berakhir dengan kedukaan! Kalau ada seorang muda dan seorang mudi saling jatuh cinta, terdapat suatu daya tarik yang amat kuat di antara mereka. Daya tarik ini antara lain diciptakan oleh kecocokan selera, akan kecantikan atau ketampanan wajah, kecocokan watak masing-masing, lalu dipupuk dan diperkuat oleh pergaulan yang semakin akrab. Semua ini menciptakan daya tarik yang mendorong mereka untuk selalu saling berdekatan karena kehadiran masing-masing merupakan hal yang menyenangkan. Tentu saja semua itu didasari lebih dulu oleh daya tarik antar kelamin yang sudah terbawa semenjak lahir. Kemudian, mereka merasa saling jatuh cinta! Sayangnya, rasa cinta ini selalu ditunggangi oleh nafsu ingin menyenangkan diri belaka sehingga timbullah nafsu ingin menguasai, ingin memiliki, dan yang paling kuat adalah nafsu sex. Setelah demikian, mulailah bermunculan perangkap-perangkap yang akan menjebak kita ke dalam kedukaan, melalui hubungan cinta kasih yang sebenarnya amat suci itu.
Dua orang muda-mudi saling mencinta dan penunggangan nafsu ingin menguasai, itulah yang menimbulkan duka kalau mereka berdua berhalangan menjadi suami isteri, atau kalau yang disebut "cinta" mereka itu "gagal" di tengah jalan. Cinta gagal ini, atau lebih jelas hubungan yang terputus ini mendatangkan patah hati yang berarti kedukaan dan kesengsaraan. Apakah kalau mereka sampai dapat menjadi suami isteri lalu cinta mereka itu menjadi kekal dan apakah hal itu dapat mendatangkan kebahagiaan? Dapat kita lihat kepahitan yang nyata di sekeliling kita! Betapa banyaknya terjadi perceraian antara suami isteri yang katanya dulu sangat saling mencinta, bahkan yang sudah mempunyai anak-anak! Perceraian yang timbul karena cemburu, karena penyelewengan, karena percekcokan, pendeknya karena KEKECEWAAN masing-masing dalam hubungan antara mereka itu. Lalu ke manakah larinya "cinta" yang mereka ikrarkan bersama dahulu? Lalu ke mana lenyapnya sumpah di antara mereka ketika mereka masih saling "mencinta"? Seolah-olah cinta hanyalah sesuatu yang bersifat sementara saja! Yang bersifat sementara ini sesungguhnya hanyalah KESENANGAN. Hanya mereka yang menikah atas dasar "mengejar kesenangan" sajalah yang akan gagal dalam pernikahan mereka, karena kesenangan yang dikejar itu selalu akan jalan bersama dengan kesusahan, kepuasan dengan kekecewaan. Mengejar kesenangan berarti ingin selalu memperoleh kesenangan, sehingga kalau dalam pernikahan itu muncul hal yang tidak menyenangkan, maka pernikahan itu pun gagal. Dan itu masih kita beri kedok yang kita namakan "cinta"! Betapa menyedihkan dan betapa pahit kenyataan hidup ini.
Sumber : kph
Peristiwa ini merupakan pukulan batin kedua bagi pemuda ini. Pertama, ketika dia melihat ayah bundanya terbunuh, dan ketika dia menangis di depan peti-peti mati dan kuburan ayah bundanya. Rasa duka yang mengandung dendam ini menggores kalbunya, akan tetapi setelah dia mempelajari ilmu kepada Hong San Hwesio, perasaan duka dan dendam itu dapat ditekannya dengan pelajaran-pelajaran kebatinan yang diterimanya dari hwesio itu sehingga hampir tak pernah terasa lagi. Akan tetapi, sekarang, setelah dia menerima pukulan batin untuk ke dua kalinya yang cukup mendatangkan rasa nyeri dan memperbesar perasaan iba diri, maka luka lama itupun berdarah kembali! Dan diapun tak dapat menahan guncangan batin ini dan jatuh sakit!
Sin Liong dan Bi Cu mengerti akan keadaan anak angkat ini, akan tetapi merekapun tahu bahwa membiarkan anak itu beristirahat dengan tenang akan menyembuhkannya, karena sesungguhnya jasmaninya tidak menderita sakit sesuatu, hanya terpengaruh oleh tekanan batin dan kekecewaan belaka. Akan tetapi, Han Tiong merasa khawatir sekali dan pemuda ini boleh dibilang siang malam menjaga adik angkatnya, merawatnya dengan penuh perhatian dan sikap kakak angkat ini, sikap yang tidak dibuat-buat melainkan yang keluar dari kasih sayang murni, merupakan obat dan penghibur yang manjur bagi Thian Sin karena pemuda ini dapat melihat bahwa ada orang lain yang masih benar-benar amat menyayangnya, yaitu Han Tiong!
Betapa menyedihkan melihat bahwa yang kita sebut-sebut cinta itu hampir selalu, atau sebagian besar, berakhir dengan kedukaan! Kalau ada seorang muda dan seorang mudi saling jatuh cinta, terdapat suatu daya tarik yang amat kuat di antara mereka. Daya tarik ini antara lain diciptakan oleh kecocokan selera, akan kecantikan atau ketampanan wajah, kecocokan watak masing-masing, lalu dipupuk dan diperkuat oleh pergaulan yang semakin akrab. Semua ini menciptakan daya tarik yang mendorong mereka untuk selalu saling berdekatan karena kehadiran masing-masing merupakan hal yang menyenangkan. Tentu saja semua itu didasari lebih dulu oleh daya tarik antar kelamin yang sudah terbawa semenjak lahir. Kemudian, mereka merasa saling jatuh cinta! Sayangnya, rasa cinta ini selalu ditunggangi oleh nafsu ingin menyenangkan diri belaka sehingga timbullah nafsu ingin menguasai, ingin memiliki, dan yang paling kuat adalah nafsu sex. Setelah demikian, mulailah bermunculan perangkap-perangkap yang akan menjebak kita ke dalam kedukaan, melalui hubungan cinta kasih yang sebenarnya amat suci itu.
Dua orang muda-mudi saling mencinta dan penunggangan nafsu ingin menguasai, itulah yang menimbulkan duka kalau mereka berdua berhalangan menjadi suami isteri, atau kalau yang disebut "cinta" mereka itu "gagal" di tengah jalan. Cinta gagal ini, atau lebih jelas hubungan yang terputus ini mendatangkan patah hati yang berarti kedukaan dan kesengsaraan. Apakah kalau mereka sampai dapat menjadi suami isteri lalu cinta mereka itu menjadi kekal dan apakah hal itu dapat mendatangkan kebahagiaan? Dapat kita lihat kepahitan yang nyata di sekeliling kita! Betapa banyaknya terjadi perceraian antara suami isteri yang katanya dulu sangat saling mencinta, bahkan yang sudah mempunyai anak-anak! Perceraian yang timbul karena cemburu, karena penyelewengan, karena percekcokan, pendeknya karena KEKECEWAAN masing-masing dalam hubungan antara mereka itu. Lalu ke manakah larinya "cinta" yang mereka ikrarkan bersama dahulu? Lalu ke mana lenyapnya sumpah di antara mereka ketika mereka masih saling "mencinta"? Seolah-olah cinta hanyalah sesuatu yang bersifat sementara saja! Yang bersifat sementara ini sesungguhnya hanyalah KESENANGAN. Hanya mereka yang menikah atas dasar "mengejar kesenangan" sajalah yang akan gagal dalam pernikahan mereka, karena kesenangan yang dikejar itu selalu akan jalan bersama dengan kesusahan, kepuasan dengan kekecewaan. Mengejar kesenangan berarti ingin selalu memperoleh kesenangan, sehingga kalau dalam pernikahan itu muncul hal yang tidak menyenangkan, maka pernikahan itu pun gagal. Dan itu masih kita beri kedok yang kita namakan "cinta"! Betapa menyedihkan dan betapa pahit kenyataan hidup ini.
Sumber : kph
Kita Baru Dapat Menikmati Alam Kita, Jika Tidak Membanding-2kan, Jika Tidak Ada Pikiran Yg memikirkan Yg Disenangi Atau Yg Dibenci!
Han Tiong dan Thian Sin yang baru saja meninggalkan kota raja, kini merasa amat gembira dan takjub menikmati pemandangan alam yang amat indah di Pegunungan Cin-ling-san. Setelah berhari-hari tinggal di kota raja yang demikian sesak dengan manusia yang demikian bising dan di mana mereka menemukan masalah-masalah yang tidak enak sekali, kini tempat yang berhawa sejuk dan segar, bersih dan hening itu nampak teramat indah dan menyenangkan!
Memang sesungguhnyalah, kita harus mengakui adanya kenyataan betapa ulah manusia, yaitu diri sendiri, telah membuat dunia ini menjadi suatu tempat tinggal yang kotor dan tidak enak ditinggali. Alam yang begitu sejuk, segar dan bersih seperti yang terdapat di pegunungan atau di dusun-dusun sunyi, segera berubah menjadi panas, pengap dan kotor setelah penuh oleh manusia. Banyak memang terdapat mahluk hidup di dunia ini, namun, betapapun nyaring suara mahluk-mahluk itu, tidak ada yang seperti suara manusia ketika mereka saling bicara. Suara manusia pada umumnya sudah penuh dengan nafsu, penuh dengan keinginan mengejar senang, penuh dengan kedukaan, penuh dengan kemarahan, kebencian! Kalau kita memasuki sebuah pasar yang penuh manusia, mendengarkan suara, manusia dalam pasar itu, lalu membandingkannya dengan suara burung-burung dan binatang-binatang di dalam hutan, akan nampak perbedaan yang teramat besar.
Kita tidak pernah dapat menikmati hidup, tidak pernah dapat menikmati sebuah tempat. Yang tinggal di kota ingin lari ke gunung, lari dari kebisingan dan menganggap bahwa keheningan akan lebih menyenangkan. Sebaliknya, kalau dia sudah tinggal di gunung, diapun masih akan menderita karena merasa kesepian dan ingin kembali ke kota! Jarang terdapat orang yang benar-benar dapat menikmati keindahan alam, dan kalaupun ada, hanya dapat dihitung dengan jari saja agaknya! Kita baru dapat menikmati keindahan alam apabila kita tidak membanding-bandingkan, apabila pikiran kita kosong, tidak dipenuhi kesibukan, apabila di dalam pikiran tidak terdapat gambaran tentang si aku dan tentang apa yang kusenangi dan tidak kusenangi. Keindahan dan kebahagiaan bukan berada di luar diri kita sendiri, keindahan dan kebahagiaan hanya terdapat pada jiwa yang bebas, bebas dari ikatan suka dan tidak suka yang menjadi permainan pikiran, yaitu pencipta si aku.
Sumber : KPH
Memang sesungguhnyalah, kita harus mengakui adanya kenyataan betapa ulah manusia, yaitu diri sendiri, telah membuat dunia ini menjadi suatu tempat tinggal yang kotor dan tidak enak ditinggali. Alam yang begitu sejuk, segar dan bersih seperti yang terdapat di pegunungan atau di dusun-dusun sunyi, segera berubah menjadi panas, pengap dan kotor setelah penuh oleh manusia. Banyak memang terdapat mahluk hidup di dunia ini, namun, betapapun nyaring suara mahluk-mahluk itu, tidak ada yang seperti suara manusia ketika mereka saling bicara. Suara manusia pada umumnya sudah penuh dengan nafsu, penuh dengan keinginan mengejar senang, penuh dengan kedukaan, penuh dengan kemarahan, kebencian! Kalau kita memasuki sebuah pasar yang penuh manusia, mendengarkan suara, manusia dalam pasar itu, lalu membandingkannya dengan suara burung-burung dan binatang-binatang di dalam hutan, akan nampak perbedaan yang teramat besar.
Kita tidak pernah dapat menikmati hidup, tidak pernah dapat menikmati sebuah tempat. Yang tinggal di kota ingin lari ke gunung, lari dari kebisingan dan menganggap bahwa keheningan akan lebih menyenangkan. Sebaliknya, kalau dia sudah tinggal di gunung, diapun masih akan menderita karena merasa kesepian dan ingin kembali ke kota! Jarang terdapat orang yang benar-benar dapat menikmati keindahan alam, dan kalaupun ada, hanya dapat dihitung dengan jari saja agaknya! Kita baru dapat menikmati keindahan alam apabila kita tidak membanding-bandingkan, apabila pikiran kita kosong, tidak dipenuhi kesibukan, apabila di dalam pikiran tidak terdapat gambaran tentang si aku dan tentang apa yang kusenangi dan tidak kusenangi. Keindahan dan kebahagiaan bukan berada di luar diri kita sendiri, keindahan dan kebahagiaan hanya terdapat pada jiwa yang bebas, bebas dari ikatan suka dan tidak suka yang menjadi permainan pikiran, yaitu pencipta si aku.
Sumber : KPH
Kamis, 20 Januari 2011
Isi hati seorang wanita
Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.
Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.
Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang (karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).
Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.
Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan cair seperti coklat!! Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima pujian.
Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati,tolak cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan,dia akan melakukan apa saja.
Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya,biarkan dia untuk seketika.
Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan. Wanita suka meluahkan apa yang mereka rasa.Musik,puisi,lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluahkan isi hati mereka.
Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.
Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.
Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh menit,semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.
Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.
Jika kamu menyukai sorang wanita, mulailah dengan persahabatan.Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.
Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.
Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.
Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!
Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.
Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.
Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya,kemudian barulah dirinya sendiri.
Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!
Satu ucapan ‘Hi’ saja sudah cukup menceriakan harinya.
Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.
Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.
Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.
Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan sepenuh hati.
Senjata wanita adalah airmata!!
Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis).
Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.
Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya. So,kalau mau memikat wanita pandai-pandailah.
Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.
Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.
Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang (karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).
Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.
Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan cair seperti coklat!! Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima pujian.
Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati,tolak cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan,dia akan melakukan apa saja.
Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya,biarkan dia untuk seketika.
Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan. Wanita suka meluahkan apa yang mereka rasa.Musik,puisi,lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluahkan isi hati mereka.
Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.
Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.
Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh menit,semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.
Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.
Jika kamu menyukai sorang wanita, mulailah dengan persahabatan.Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.
Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.
Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.
Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!
Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.
Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.
Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya,kemudian barulah dirinya sendiri.
Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!
Satu ucapan ‘Hi’ saja sudah cukup menceriakan harinya.
Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.
Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.
Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.
Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan sepenuh hati.
Senjata wanita adalah airmata!!
Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis).
Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.
Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya. So,kalau mau memikat wanita pandai-pandailah.
Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.
Pesan dari Dale Carnegie
1. Create your own emotions.
“If you want to be enthusiastic, act enthusiastic.”
Emotions work backwards too. You can use that to your advantage. If you are stuck in a negative emotion then you can often shake it off. Change your body – how you move, sit and stand – and act as you would like to feel. Enthusiasm and other positive emotions are much more useful and pleasurable for everyone in an interaction. Because…
2. It’s not so much about the logical stuff.
“When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion.”
This is so key. Logic is good but in the end, in interactions and in life, we are emotional creatures. We send and receive emotions from other people. That is one reason why body language and voice tonality is often said be up to 93% of communication. Now, those numbers were for some specific situations but I still believe that these two ways of communication are very, very important.
The body language and the voice tonality is a bit like the rest of the iceberg, the great mass below the tip of the words we use. Those two things communicate how we are feeling and give indication to what we are thinking. And that’s why it’s important to be able to change how you feel. To be in a positive mood while interacting. Because that will have a great impact on how you say something and how you use your body. And those two things will have a big impact on your results and relationships.
3. Three things you are better off avoiding.
“Any fool can criticize, condemn, and complain but it takes character and self control to be understanding and forgiving.”
Now these things may not be easy to avoid all together. Much of our interactions and perhaps even bonds are created and maintained through those three negative C’s. There is a sort of twisted pleasure in criticising, condemning and complaining. It might make you feel more important and like a better person as you see yourself as a victim or as you condemn other people’s behaviour.
But in the end these three C’s are negative and limiting to your life. Bringing up negative stuff and wallowing in it will lower your mood, motivation and general levels of wellbeing. And this can trap you in a negative spiral of complaining, complaining with other complainers and always finding faults in your reality.
You will also be broadcasting and receiving negative emotions. And people in general want to feel good. So this can really put an obstacle in the way for your interactions or relationships.
4. What is most important?
“The royal road to a man’s heart is to talk to him about the things he treasures most.”
Classic advice. Don’t talk too much about yourself and your life. Listen to other people instead. However, if they ramble on and on, if they don’t reciprocate and show and interest in your life then you don’t have to stay.
Some things people may treasure the most include ideas, children, a special hobby and the job. And…
5. Focus outward, not inward.
“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.”
A lot of people use the second, far less effective way. It is appealing because it’s about instant gratification and about ME, ME, ME! The first way – to become interested in people – perhaps works better because it make you a pleasant exception and because the law of reciprocity is strong in people. As you treat people, they will treat you. Be interested in them and they will be interested in you.
I would like to add that one hard thing about this can be to be genuinely interested in the other guy/gal. Your genuine interest is projected though your body language and tonality. So, just waiting for the other person to stop talking so you can talk again isn’t really genuine interest. And that may shine through. And so your interactions will suffer.
6. Take control of your emotions.
“The person who seeks all their applause from outside has their happiness in another’s keeping.”
It wrote about this problem a few days ago in 9 Great Ways to Make Yourself Absolutely Miserable. And it basically consist of being too reliant or dependent on external validation from other people. External validation is something someone communicates to you that tells you that you are person of value. That you, for example, are pretty, smart or successful.
This leaves much of your emotions in the hands of other people. It becomes an emotional rollercoaster. One day you feel great. The next day you feel like just staying in bed.
But if you fill that inner cup of validation for yourself instead then you take over the wheel. Now you’re driving, now you control how you feel. You can still appreciate compliments of course, but you aren’t dependent on them.
This will make you more emotionally stable and enables you to cultivate and build your emotional muscles in a more controlled way. You can for instance help yourself to become more optimistic or enthusiastic more of the time. This stability and growth can be big help in your relationships.
7. No, they are not holding you back.
“Instead of worrying about what people say of you, why not spend time trying to accomplish something they will admire.”
Caring too much about what people think will create and feed imaginary monsters within your mind. You may for instance think that people will condemn you if you try something. Maybe they will. But most of the time people are thinking about their own challenges and ups and downs. They just don’t care that much about what you do.
This may feel disappointing. It can also be liberating. It helps you remove inner obstacles that are you holding yourself back.
As you, bit by bit or in one big swoop, release those inner brakes you become more of yourself. You become more confident, you have a better chance at success, and you will feel more positive feelings and less negative ones. All these things can give a big boost to your interactions and help you sharpen those social skills.
8. So, what’s in it for me?
“There is only one way… to get anybody to do anything. And that is by making the other person want to do it.”
If you want someone to do something then will they care about your motivation for getting this thing done? Perhaps. Often they will not have that great of an interest in what you want out of something.
They want to know what they will get out of it. So, for the both of you to get what you want out of something tell that person what’s in it for him/her. And try to be genuine and positive about it. A reason for them to do it delivered in a lame, half-assed manner may not be so persuasive. And so you both lose.
9. How to win an argument.
“The only way to get the best of an argument is to avoid it.”
Getting two egos wrapped up in an argument, having two sides defending their positions desperately, will not improve relationships. You are more likely to feel negative feelings towards each other long after the argument is over. And so you both wallow in negativity and you both lose. When possible, just avoiding unnecessary arguments is a win-win situation.
10. It’s about more than your words.
“There are four ways, and only four ways, in which we have contact with the world. We are evaluated and classified by these four contacts: what we do, how we look, what we say, and how we say it.”
I often feel that there is a bit too much emphasis on the third way of contact (what we say). Don’t forget about the rest. Most people stereotype people at their first meeting. They might not want to but it is a way for their – and perhaps your – mind to organize impressions and people. So think about how you look. Think about how you make first impressions. Think about your body language. And how you are saying your sentences.
Think about how you feel because that will be reflected out into the world. And the world will often reflect back something similar.
“If you want to be enthusiastic, act enthusiastic.”
Emotions work backwards too. You can use that to your advantage. If you are stuck in a negative emotion then you can often shake it off. Change your body – how you move, sit and stand – and act as you would like to feel. Enthusiasm and other positive emotions are much more useful and pleasurable for everyone in an interaction. Because…
2. It’s not so much about the logical stuff.
“When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion.”
This is so key. Logic is good but in the end, in interactions and in life, we are emotional creatures. We send and receive emotions from other people. That is one reason why body language and voice tonality is often said be up to 93% of communication. Now, those numbers were for some specific situations but I still believe that these two ways of communication are very, very important.
The body language and the voice tonality is a bit like the rest of the iceberg, the great mass below the tip of the words we use. Those two things communicate how we are feeling and give indication to what we are thinking. And that’s why it’s important to be able to change how you feel. To be in a positive mood while interacting. Because that will have a great impact on how you say something and how you use your body. And those two things will have a big impact on your results and relationships.
3. Three things you are better off avoiding.
“Any fool can criticize, condemn, and complain but it takes character and self control to be understanding and forgiving.”
Now these things may not be easy to avoid all together. Much of our interactions and perhaps even bonds are created and maintained through those three negative C’s. There is a sort of twisted pleasure in criticising, condemning and complaining. It might make you feel more important and like a better person as you see yourself as a victim or as you condemn other people’s behaviour.
But in the end these three C’s are negative and limiting to your life. Bringing up negative stuff and wallowing in it will lower your mood, motivation and general levels of wellbeing. And this can trap you in a negative spiral of complaining, complaining with other complainers and always finding faults in your reality.
You will also be broadcasting and receiving negative emotions. And people in general want to feel good. So this can really put an obstacle in the way for your interactions or relationships.
4. What is most important?
“The royal road to a man’s heart is to talk to him about the things he treasures most.”
Classic advice. Don’t talk too much about yourself and your life. Listen to other people instead. However, if they ramble on and on, if they don’t reciprocate and show and interest in your life then you don’t have to stay.
Some things people may treasure the most include ideas, children, a special hobby and the job. And…
5. Focus outward, not inward.
“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.”
A lot of people use the second, far less effective way. It is appealing because it’s about instant gratification and about ME, ME, ME! The first way – to become interested in people – perhaps works better because it make you a pleasant exception and because the law of reciprocity is strong in people. As you treat people, they will treat you. Be interested in them and they will be interested in you.
I would like to add that one hard thing about this can be to be genuinely interested in the other guy/gal. Your genuine interest is projected though your body language and tonality. So, just waiting for the other person to stop talking so you can talk again isn’t really genuine interest. And that may shine through. And so your interactions will suffer.
6. Take control of your emotions.
“The person who seeks all their applause from outside has their happiness in another’s keeping.”
It wrote about this problem a few days ago in 9 Great Ways to Make Yourself Absolutely Miserable. And it basically consist of being too reliant or dependent on external validation from other people. External validation is something someone communicates to you that tells you that you are person of value. That you, for example, are pretty, smart or successful.
This leaves much of your emotions in the hands of other people. It becomes an emotional rollercoaster. One day you feel great. The next day you feel like just staying in bed.
But if you fill that inner cup of validation for yourself instead then you take over the wheel. Now you’re driving, now you control how you feel. You can still appreciate compliments of course, but you aren’t dependent on them.
This will make you more emotionally stable and enables you to cultivate and build your emotional muscles in a more controlled way. You can for instance help yourself to become more optimistic or enthusiastic more of the time. This stability and growth can be big help in your relationships.
7. No, they are not holding you back.
“Instead of worrying about what people say of you, why not spend time trying to accomplish something they will admire.”
Caring too much about what people think will create and feed imaginary monsters within your mind. You may for instance think that people will condemn you if you try something. Maybe they will. But most of the time people are thinking about their own challenges and ups and downs. They just don’t care that much about what you do.
This may feel disappointing. It can also be liberating. It helps you remove inner obstacles that are you holding yourself back.
As you, bit by bit or in one big swoop, release those inner brakes you become more of yourself. You become more confident, you have a better chance at success, and you will feel more positive feelings and less negative ones. All these things can give a big boost to your interactions and help you sharpen those social skills.
8. So, what’s in it for me?
“There is only one way… to get anybody to do anything. And that is by making the other person want to do it.”
If you want someone to do something then will they care about your motivation for getting this thing done? Perhaps. Often they will not have that great of an interest in what you want out of something.
They want to know what they will get out of it. So, for the both of you to get what you want out of something tell that person what’s in it for him/her. And try to be genuine and positive about it. A reason for them to do it delivered in a lame, half-assed manner may not be so persuasive. And so you both lose.
9. How to win an argument.
“The only way to get the best of an argument is to avoid it.”
Getting two egos wrapped up in an argument, having two sides defending their positions desperately, will not improve relationships. You are more likely to feel negative feelings towards each other long after the argument is over. And so you both wallow in negativity and you both lose. When possible, just avoiding unnecessary arguments is a win-win situation.
10. It’s about more than your words.
“There are four ways, and only four ways, in which we have contact with the world. We are evaluated and classified by these four contacts: what we do, how we look, what we say, and how we say it.”
I often feel that there is a bit too much emphasis on the third way of contact (what we say). Don’t forget about the rest. Most people stereotype people at their first meeting. They might not want to but it is a way for their – and perhaps your – mind to organize impressions and people. So think about how you look. Think about how you make first impressions. Think about your body language. And how you are saying your sentences.
Think about how you feel because that will be reflected out into the world. And the world will often reflect back something similar.
Minggu, 19 Desember 2010
Alasan Pelatih Alfred Riedl tidak selebrasi gol
Tahu tidak sih, kenapa ekspresi-nya Pelatih yang udah beberapa kali jadi pelatih timnas di asia tenggara, seperti Vietnam, Laos, Indonesia.
dingin gitu pas tiap tiap ada gol.
kira2 begini nih:
awalnya gue rasa perangainya emang jutek gitu, atau emang wajahnya dari lahir begitu.
ternyata dia itu, masih punya rasa kurang nyaman, kalau mesti "mempermalukan" tim tamu, seperti laos,malaysia.
dibeberapa komentar wawancara pers dia bilang, hanya menduga menang 3-1 atas malaysia (link),
3-0 atas laos(link), dan merasa hasil seri adalah adil saat melawan thailand ((link)
makanya dia diem aja pas ada gol dari Indonesia.
abis itu saya menemukan fakta yang mengejutkan, pas dia masih melatih Vietnam tahun 2007-an, dia itu kena penyakit ginjal, sehingga dokter menyarankan transplantasi ginjal, nah pas saat itu,hampir 80 fans sepakbola vietnam menawarkan diri jadi donor ginjal, satu orang dipilih.
dan transplantasi itu sukses. sehingga dia jadi sehat seperti semula
para fans itu hanya ingin memberikan suatu terima kasih, kepada sang pelatih vietnam, yang telah membangkitkan timnas mereka.
makanya itu, sejak saat itu dia merasa selalu berhutang kepada setiap supporter sepakbola, makanya tiap ada gol ke tim lawan, dia cenderung pasif, dan terkadang hanya melakukan selebrasi sekadarnya saja. untuk menjaga perasaan mereka para supporter sepakbola.
dingin gitu pas tiap tiap ada gol.
kira2 begini nih:
awalnya gue rasa perangainya emang jutek gitu, atau emang wajahnya dari lahir begitu.
ternyata dia itu, masih punya rasa kurang nyaman, kalau mesti "mempermalukan" tim tamu, seperti laos,malaysia.
dibeberapa komentar wawancara pers dia bilang, hanya menduga menang 3-1 atas malaysia (link),
3-0 atas laos(link), dan merasa hasil seri adalah adil saat melawan thailand ((link)
makanya dia diem aja pas ada gol dari Indonesia.
abis itu saya menemukan fakta yang mengejutkan, pas dia masih melatih Vietnam tahun 2007-an, dia itu kena penyakit ginjal, sehingga dokter menyarankan transplantasi ginjal, nah pas saat itu,hampir 80 fans sepakbola vietnam menawarkan diri jadi donor ginjal, satu orang dipilih.
dan transplantasi itu sukses. sehingga dia jadi sehat seperti semula
para fans itu hanya ingin memberikan suatu terima kasih, kepada sang pelatih vietnam, yang telah membangkitkan timnas mereka.
makanya itu, sejak saat itu dia merasa selalu berhutang kepada setiap supporter sepakbola, makanya tiap ada gol ke tim lawan, dia cenderung pasif, dan terkadang hanya melakukan selebrasi sekadarnya saja. untuk menjaga perasaan mereka para supporter sepakbola.
Langganan:
Postingan (Atom)